DKV UNPAS Bandung: Media Literacy

Arakanlebah, Komunitas DKV UNPAS Bandung

Tampilkan postingan dengan label Media Literacy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Literacy. Tampilkan semua postingan
Semua alat atau teknologi pada dasarnya adalah perpanjangan (mimikri) dari tubuh manusia. Ketika manusia membuat roda, maka roda menjadi perpanjangan akan kaki kita, roda bisa menggantikan kaki untuk berjalan, ketika manusia menemukan teropong, maka itu adalah perpanjangan dari mata, ketika harus melihat objek yang jauh. Bentuk perpanjangan ini bisa sangat abstrak hasilnya, bahkan sepertinya bukan perpanjangan dari tubuh kita. Alphabet adalah perpanjangan dari suara yang dibuat menjadi simbol, kemudian menjadi sistem, sehingga kamak-kamak bisa membaca, membaca apapun yang tercetak, bahkan ada pepatah bilang bahwa buku adalah jendela dunia. Komputer yang merupakan perpanjangan dari otak manusia, dan internet merupakan perpanjangan akan jaringan sel dalam  tubuh (pas bagian internet itu sih menurut saya ajah). Perpanjangan ini sudah mencapai bagian lebih dalam dari tubuh manusia, mungkin bisa dilihat dengan fenomena sosial media di internet, yang merupakan perpanjangan akan perilaku bersosial yang kemudian kita kenal dengan sisi narsis kita, mungkin kamak-kamak udah tahu soal selfie? ya begitulah.
Semua perpanjangan ini berputar membesar, seperti sebuah pusaran. Kamak-kamak berada dalam pusaran perpanjangan akan tubuh manusia, dan mungkin sekarang pusaran perpanjangan ini sudah melingkupi tubuh non fisik manusia seperti misalnya emosi. Manusia menciptakan teknologi untuk mempertajam perpanjangan tubuhnya, sehingga mampu memperlakukan teknologi untuk mencapai pencapaian yang diinginkan oleh manusia, membentuk apa yang dicita-citakan manusia, namun efek sampingnya adalah akan ada masa dimana justru teknologi itu sendiri yang akan membentuk manusia.
Apakah kita akan menghanyutkan diri pada pusaran ini? bagaimana kita menghadapi pusaran yang besar ini? Marshall Mcluhan mencoba menjawab pertanyaan ini dalam film yang berjudul "wake" hasil besutan Kevin Mcmahon di bawah ini.


Apa hubungannya masalah ini dengan DKV?
Sebagai seorang yang DKV kita harus bisa memahami semua alat dan teknologi yang terus diciptakan oleh manusia, dengan memahaminya, maka kita bisa membuat komunikasi dan desain yang tepat. Memberikan perpanjangan visual dan komunikasi yang terus beradaptasi dan berinovasi, karena DKV ini sangat dinamis. Membuat struktur pusaran baru, memperluas peradaban, menciptakan budaya, begitulah konon peran DKV di sejarah kehidupan manusia sampai saat ini.
#cumangayal : coba Mcluhan punya fb atau instagram entah film ini gimana endingnya hihi....
Maksud tulisan ini bukan tutorial atau step-by-step membuat logo, karena itu sudah banyak dibahas di buku-buku, situs web dan di kuliah sekolahan desain. Yang dibahas disini adalah yang kadang luput diperbincangkan dalam referensi tersebut. Sesuatu yang ‘sudah pasti’ tapi seringkali diabaikan dalam membuat logo.

LOGO BUKAN HANYA SEKEDAR SIMBOL
Logo adalah simbol yang berfungsi sebagai identitas dari suatu entitas (bentuk entitasnya bisa berupa perorangan, perusahaan atau jasa). Logo bukan hanya simbol, tapi ia harus identik (mirip hingga ke detailnya) dengan entitasnya. Jadi langkah pertama membuat logo bukan dengan cara membuat sketsa bentuk simbol, tetapi harus dimulai dengan mengenali seluk beluk entitasnya.

LOGO HARUS UNIK, TITIK!
Kunci utama agar simbol menjadi ‘logo’ adalah ia harus unik. Kesulitannya, logo yang unik seringkali bentuknya tidak familiar, sehingga banyak menimbulkan penolakan. “Ah, jangan yang ini. Karena nggak seperti logo Bank!” memiliki ke’seperti’an dengan yang lain adalah musuh utama keunikan. Perlu ditekankan bahwa logo tidak harus menggambarkan lingkup usahanya (yang bisa membuatnya sama dengan yang lain), tetapi logo harus dapat menggambarkan karakter entitasnya. Ikuti saja kodrat alamiah entitas, bahwa setiap entitas itu adalah unik dan seharusnya memang tidak sama dengan yang lain.
Sebuah logo Bank yang tidak seperti logo Bank. Desain oleh Saffron (foto: http://saffron-consultants.com)
JANGAN MENDESAIN LOGO DENGAN METODE YANG  SAMA
Metode atau tatacara/prosedur membuat logo pun harus dibuat unik, yaitu disesuaikan dengan masalahnya. Metode membuat desain logo harus terus diperbaharui, kadang logo tidak harus memiliki visibility (keterlihatan) atau readability (keterbacaan) yang tinggi, karena tampilannya harus agak misterius, misalnya.
Logo yang misterius tidak harus memiliki visibility dan readability. (foto: http://www.larryeeles.com)
LOGO TIDAK HARUS KONSISTEN, TAPI HARUS KOHEREN
Koheren adalah konsisten secara logis; artinya, logo tidak harus berupa satu tampilan yang itu-itu saja. Logo bisa muncul dalam variasi konfigurasi tertentu. Jadi ia fleksibel, dinamis dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta kondisi di sekitarnya.
Logo harus fleksibel, dinamis dengan lingkungannya. (foto: http://saffron-consultants.com)
JADI, LUPAKAN LOGO YANG TRENDY
Terakhir, hindari pendekatan wujud logo yang mainstream atau ikut arus trend. Jadilah tidak popular.
Selamat membuat logo!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @didiologi
Kunjungi juga rumah Saya disini
Iklan CDR karya JWT Advertising
Selera adalah hal yang sangat mendasar dalam hidup manusia. Sangatlah jelas bahwa tindakan kita sehari-hari sangat disetir oleh selera kita. Mulai dari hal sederhana seperti pemilihan baju, menu makan siang, isi MP3, Games dan aplikasi pada gadget kita, memilih mentor bisnis, sampai pada hal yang menentukan jalan hidup seperti kepada siapa kita jatuh cinta. Semuanya berkaitan erat dengan selera kita. Bicara tentang selera pada seseorang berarti bicara tentang apa yang dinilainya bagus, cantik, indah, enak, nyaman. Ini jelas tentang pertimbangan estetis.

Menurut filsuf Immanuel Kant (1724-1804) pertimbangan estetika didasarkan pada perasaan subyektif yang terpulang pada masing-masing orang. Kant juga berpendapat bahwa apa yang dinamakan good taste (selera bagus) sebenarnya tidak ada, yang eksis adalah konsensus publik mengenai apa itu keindahan. Kalau dihubungkan dengan selera dan keinginan mengonsumsi bisa jadi  konsensus publik ini = selera pasar atau selera kebanyakan.

Suatu produk budaya, entah itu music, masakan, pakaian ataupun desain, bila berhasil memanfaatkan selera pasar, akan memiliki peluang yang baik untuk sukses di pasaran. Publik kemudian akan dengan rela hati dan antusias membeli (bahkan kalau perlu dengan cara berutang/kredit) produk tersebut. Implikasi di belakangnya, seperti terjerat utang bukan urusan pemasar. Contoh gampangnya adalah seperti pola pengeluaran handphone dan pulsa oleh para “blue-collar worker”, yang memakan persentase yang signifikan dari gaji mereka.

Pemahaman akan budaya adalah kunci kemenangan di medan peperangan = kemenangan pasar. Tanpa penelitian yang mempelajari Islam dan kultur setempat oleh Dr. Snouck Hurgronje (1857-1936), mustahil Belanda mampu meningkatkan control atas Aceh. Sejarah mencatat, kultur adalah benteng pertahanan terhadap dominasi asing. Dan cara mendobrak benteng itu adalah dengan mempelajari kultur tersebut, memperoleh pengertian yang mendalam, dan mencari celahnya. Sampai saat ini cara itu tetap valid.

Langkah pertama dalam mengembangkan atau memenangkan selera pasar adalah mengenali khalayak sasaran, yaitu meneliti kelompok calon pembeli (produk yang ditawarkan).
Strategi berikutnya adalah Indentifikasi Audiens Sasaran yaitu mengidentifikasi pasar yang ingin dibidik, atau dengan kata lain melakukan segmentasi pasar dan pembidikan pasar. Para penjual dapat mengambil tiga strategi pendekatan kepada pasar.

Pertama, pemasaran massal dengan memproduksi dan mendistribusikan secara massal satu produk dan berusaha memikat segala jenis pembeli.

Kedua, pemasaran beragam produk, yaitu keputusan untuk memproduksi dua atau lebih penawaran pasar (produk) yang berbeda dalam model fitur, mutu, ukuran, dan sebagainya yang dirancang untuk menyediakan keragaman bagi selera pasar serta membedakan produk penjual dengan pesaingnya.

Ketiga, pemasaran target yaitu dengan membedakan berbagai kelompok pembeli yang membentuk pasar dan mengembangkan bauran produk dan pemasaran yang sesuai untuk masing-masing pasar sasaran.
Saat ini, para penjual masa kini sedang beralih dari pemasaran massal dan diferensiasi produk kearah pemasaran target karena jenis pemasaran ini lebih membantu dalam mengenali peluang-peluang pasar dan pemasaran yang efektif.  Langkah-langkah pokok pokok dalam pemasaran target terdiri dari Segmentasi Geografis, Segmentasi Demografis, Segmentasi Psikografis, Segmentasi Perilaku, Segmentasi Manfaat, Segmentasi Pasar Industri.

Sudah siap memenangkan pasar dengan memanfaatkan selera pasar untuk produk yang Anda jual?

Tentang penulis bisa di kunjungi rumahnya disini => didisupardi.com
Iklan Wonderbra
Banyak iklan yang tampil, tak semua menarik minat khalayak, merancang iklan, terutama yang kreatif, perlu disiplin tersendiri. Iklan yang menjual harus dirancang dengan “SERIOUS”.

Ada banyak pakem dalam membuat iklan. Sejumlah legenda iklan terkemuka telah memberikan sejumlah kaidah untuk membuat iklan. Ada konsep klasik dari St. Elmo Lewis (1898) tentang kaidah AIDCA (Attention, Interest, Desire, Conviction, Action). Lee Clow, salah seorang anggota Clio Hall Of Fame, menegaskan pentingnya keberanian menolak karya iklan yang dirancang dengan mental “good enough”. Sebab, kita perlu menyadari, good adalah enemy of the great.

Fadjar Rusli, insan periklanan nasional yang  pernah menjadi juri di sejumlah festival kreatif  internasional dan memperoleh sejumlah penghargaan di dunia periklanan mencoba merumuskan konsep kreatifnya. Sebuah teori yang cukup menarik telah diciptakannya yaitu teori yang menjabarkan tentang cara pembuatan iklan yang baik melalui kata SERIOUS. SERIOUS sendiri merupakan akronim dalam upaya pembuatan iklan yang baik dan menjual melalui Single message (pesan tunggal), Entertaining (menghibur), Relevant (relevan), Idea (ide), Original (orisinal), Unexpected (tak terduga), dan Sells (menjual).

Yuk, kita bahas satu persatu pesan yang ingin disampaikan dari kata SERIOUS.

SINGLE MESSAGE
Sebuah bola yang dilempar ke arah Kamu dapat dengan mudah Kamu tangkap. Namun dua buah bola yang meluncur ke arah Kamu akan membuat Kamu kerepotan menangkapnya. Apalagi jika ada tiga, empat atau lima bola datang bersamaan, Kamu bisa jadi tak dapat menangkap satu pun dari bola itu. Karena itu menjadi sangat penting untuk memilih pesan yang ingin disampaikan, sesuai dengan harapan terbesar dari khalayak sasaran yang ingin dicapai. Disini menjadi sangat penting memahami Consumer Insight sehingga khalayak sasaran akan tergugah mengikuti persuasi pesan.

ENTERTAINING
Konsumen tak akan memperhatikan iklan yang garing dan boring, mereka punya banyak pilihan entertainment yang menghibur dalam mengisi hari-hari mereka. Apa yang dikatakan oleh David Ogilvy bahwa konsumen tak akan membeli dari badut mungkin ada benarnya. Namun lelucon yang kreatif dan menghibur akan membuat orang tersenyum dan menciptakan empati. Karena itu iklan harus melakukan engagement dan menghibur khalayak sasarannya. Dengan senyum, simpati dapat dibangun dan relasi alias bonding antara merek dan khalayak dapat diciptakan.

RELEVANCE
Dorongan untuk tampil baru dan unik seringkali membuat perancang iklan menggapai kemungkinan kreatif yang tak terduga bahkan gila-gilaan. Namun harus di ingat batas antara kreatif dan gila setipis daun bawang. Kamu bisa berjalan dengan tangan sebagai pengganti kaki sehingga menarik perhatian banyak orang. Namun apakah hal itu relevan dengan pesan yang ingin disampaikan mungkin adalah hal yang lain. Kita bisa bertindak gila-gilaan, namun hal itu bukanlah suatu kerja kreatif, namun bisa jadi malah destruktif. Relevansi menggambarkan ide kreatif tidak berdiri sendiri  atau terjun bebas dari langit. Ia merupakan suatu proses pemikiran yang melibatkan harapan dari khalayak sasaran. Itu sebabnya untuk menjadi relevan proses kreatif iklan melibatkan strategic planner yang memungkinkan pekerja kreatif menambang ide dalam ranah yang relevan.

IDEA
“Damn, it is really great!” “Anjeeer!” Hanya ide besar yang bisa menarik perhatian konsumen dan menghipnotis mereka lebih dalam daripada hipnotis ala Rommy Rafael. Dari 1000 ide yang lalu-lalang di kepala, mungkin hanya ada satu ide yang stands out dan cemerlang, yang mampu menciptakan suatu konsep atau tema iklan yang bisa membuat khalayak berdecak kagum. Jacques Seguela dari Euro RSCG bahkan mengibaratkan ide besar bagaikan sperma, jutaan yang tersembur namun hanya satu yang membuat kehamilan.

ORIGINAL
Kreativitas memerlukan kesegaran dan keunikan, dan karena itu menuntut orisinalitas. Iklan yang telah “terlihat” sebelumnya tak lagi memiliki greget dalam upaya persuasi, karena konsumen akan membandingkan dengan pendahulunya. Disinilah pentingnya untuk terus menarik ide ke titik frontier terdepan.

UNEXPECTED
Mungkin inilah faktor penting untuk membangkitkan daya tarik yang membuat khalayak sasaran memerhatikan pesan iklan. Cara penyampaian pesan yang tak terduga akan membuat konsumen menunda memencet remote control karena melihat sesuatu yang tak terbayangkan olehnya. Suatu hal yang membuatnya terpaku di layar TV, memerhatikan iklan yang sedang ditayangkan.

SELLS
Iklan yang menjual dan memperoleh penghargaan bukanlah suatu dikotomi. Iklan mampu menjual karena berhasil tampil kreatif, dan sebaliknya. Sejumlah pemimpin pasar semacam Axe, Nike dan Apple tampil begitu kreatif dalam iklan-iklannya. Iklan yang berhasil tampil kreatif akan sukses menciptakan awareness, yang akan membangkitkan ketertarikan gairah, dan akhirnya mendorong konsumen untuk membeli produk tersebut. Tak peduli betapa pun indah dan hebatnya craftsmanship dan eksekusi dari paparan sebelumnya, tanpa iklan tersebut bisa menjual  maka akan sia-sia, karena inti dari iklan adalah harus bisa menjual.

Bagaimana apakah sudah kepikiran mau buat iklan dengan SERIOUS??

(Tulisan ini di kutip dari majalah Concept  Vol05Edisi03’2009)

Terdepan => sampai pelosok => desa => sawah?

at 7/31/2009 • , • View Comments

captured from kompas 31/7/2009

Uhm, apa yang salah dari iklan Telkom itu? Kayaknya sih ga ada yang salah. Semua tampak baik-baik saja. Tapi supaya ada masalah, bisa kita cari-cari masalahnya. Tapi, komentar berikut ini bukan sekedar cari-cari masalah. Banyak pertanyaan justru muncul dengan visualisasi masang tiang di tengah sawah seperti ini.


Pertanyaan pertama, apa Pak Tani tidak keberatan kalau sawahnya dijadikan pemasangan tiang? Kedua, Apa mereka (Telkom) membayar Petani dengan memasang tiang di tengah sawahnya? Atau apa karena itu sawah milik Telkom, jadi gampang saja masang menara tinggi dan besar itu di tengah hijaunya persawahan. "Tumbuh besar, menjadi yang terdepan". Entah apa yang dimaksud dengan tagline macam begitu, kalau visualisasinya seperti ini.

Ada kesan bahwa persawahan itu tidak penting lagi, tapi karena sekarang era informasi, maka lebih penting menara-menara penyambung komunikasi itu. Daripada sawah-sawah hijau penyumbang produksi beras untuk mengisi perut kita sehari-hari, telekomunikasi jauh lebih penting. Apa kira-kira gagasan si pembuat iklan ini, pada saat brainstorming berlangsung?

Pertanyaan kunci seperti apa yang ingin dijawab, kalau jawabannya seperti ini. Atau jangan-jangan yang ingin dimaksud adalah, jaringan Telkom sampai ke Pelosok? Pelosok Desa? Desa = sawah? Terdepan = sampai pelosok = desa = sawah?

Uhm... Tentu kita tidak tahu kalau tidak mendapat penjelasan si pembuatnya. Tapi baiklah, kita memang tidak bermaksud menggugat iklan ini, hanya menajamkan akal sehat saja, dengan mengajukan pertanyaan kritis. Pertanyaan sederhananya, apa cita-citanya Telkom dengan visualisasi macam begitu? WHAT TO SAY-nya sebenarnya apa sih?

Silakan tebak-tebak sendiri.

Lagi, Tentang Etika Periklanan (3)

at 6/19/2009 • , , • View Comments

Kalau Anda merasa punya keluhan terhadap iklan tak beretika, silakan lapor ke PPPI, di sini. Untuk kumpulan peraturan dan pedoman etika periklanan ada di link ini.
Dukung Etika Pariwara Indonesia!

Lagi, Tentang Etika Periklanan (2)

at 6/18/2009 • , , • View Comments

Pengantar 

Seorang member di milis CCI membuat polling tentang Iklan Penyedia Jasa Telekomunikasi. Meskipun polling ini sangat terbatas, hanya untuk member milis, tapi ulasannya sangat menginspirasi. Atas ijin empunya, saya pos di blog ini tulisannya, juga salah satu ulasan yang mengomentarinya.

Dalam posting sebelumnya, penulis (Ridwan) mengulas analisa tentang iklan superlatif dari berbagai sudut pandang, mulai dari sisi etika, sampai sisi penggunaan bahasa. 


Berikut adalah komentar member lain terhadap posting Ulasan hasil Polling Iklan Penyedia Jasa Telekomunikasi Selular. Sambungan dari posting sebelumnya.

Menarik sekali, dari polling sederhana 'iseng-iseng' ini saya kira ada hal yang bisa dicerna. Soal sampel survey yg anggota milis di mana 80% mahasiswa dan sisanya praktisi periklanan bisa jadi memang bias. Karena kalau dilihat dari struktur sosial masyarakat, antara mahasiswa periklanan dan praktisi periklanan sebetulnya berada dalam range dan karakteristik yg sama jika itu dijadikan sampel.

Cara pikirnya/nalarnya sama, preferensi minat dan seleranya sama, strata sosialnya sama, yang beda untuk saat ini mungkin cuma masalah isi kantong saja. Bisa jadi akan sangat berbeda dengan yang mungkin menjadi mayoritas TA dari 'perang tarif' iklan-iklan selular yaitu strata bawah masyarakat yang jumlahnya jauh lebih besar daripada mahasiswa periklanan, apalagi orang iklan.

Tapi saya tidak akan memperdebatkan masalah metode pengambilan sampel dan metoda surveynya. Saya teratrik untuk membahas kegalauan Bung Ridwan (yg konon masih kerabat Jend. Sudirman) soal iklan-iklan yg muncul dari 'perang tarif' antar operator. Saya kira masalahnya tidak sesederhana agency nya tidak memiliki 'insight' tersebut. Tak sesederhana juga bahwa agencynya tahu 'insight' tapi tak kuasa menolak permintaan klien yg kemudian membuat Bung Ridwan galau bahwa telah terjadi proses pelacuran.

Saya yakin ada sebuah keyakinan yang lebih besar dari itu dibalik penggelontoran uang triliunan rupiah sepanjang 2008-2009 untuk belanja iklan telco, yg menempatkan telco industri sbg primadona baru setelah rokok, toiletries, dan yang paling anyar politik!

Di Bisnis Indonesia hari ini, menjadi headline utama issue konsolidasi antar operator seluler. Dari 11 operator bagi 161 juta pelanggan dari 227 penduduk Indonesia, pada 2010 akan lebih ideal jika dikelola 4-5 operator. Hal itu terjadi krn 81,3% pangsa pasar dimiliki oleh 3 operator besar: Telkomsel (72jt), Indosat (33jt), XL (25jt). 8 operator lainnya, konon saling sikut memperebutkan 18,7% pangsa alias 33,7 juta pelanggan. Tampaknya seperti issue yang tengah menguat di industri perbankan, akan ada konsolidasi sehingga nantinya hanya akan ada 5-8 bank yang beroperasi di Indonesia.

Konsolidasi adalah sebuah kenyataan yg harus dilakukan walaupun tidak nyaman, demi menyelamatkan eksistensi. Ibarat menelan pil pahit kalau mau sembuh dari penyakit. Ini berlaku buat segala hal, tak terkecuali di arena politik yg lebih populer dengan kata koalisi. Dalam hal konsolidasi, bisa yg lemah/gurem bergabung dengan yg kuat, bisa yg lemah/gurem dalam jumlah banyak saling bergabung sehingga menjadi satu blok kuat. Pertanyaannya, mengapa kondisi di industri telco kok jadi mirip sama perbankan, yg puncaknya pada krisis 1997 dan hingga kini pun belum 100% recovery?

Menurut saya ini berakar pada suatu tingkat ekspektasi bisnis yg optimis berlebihan dan cenderung bullish. Contoh di industri telco, selama 10 tahun saya menyimak (dan pernah jadi CP juga), keyakinan yang diimaninya tetap sama walau menurut saya salah. Hal itu tampak jelas dalam berita di Bisnis Indonesia hari ini yang mengambil bahan dari presentasi salah satu perusahaan telco. Angka 161 juta pelanggan itu diartikan sebagai 72,2% penetrasi penggunaan ponsel di Indonesia, yang diyakini bahwa dari 100 orang Indonesia, sedikitnya 72 orang menggunakan ponsel!

Dengan cara membaca angka seperti ini menjadikan Indonesia pasar yang sangat menarik untuk industri telco dan berbondong-bondong pelaku bisnis dan investor masuk ke industri ini, baik sebagai operator maupun kontraktor infrastruktur. Keyakinan ini makin tahun makin kuat ketika angkanya terus bertambah dari tahun ke tahun. Katanya orang telco itu orang IT, dan katanya orang IT itu orang eksak. Mungkin saking eksaknya sehingga keyakinannya linear seperti itu, tanpa bisa melihat hal-hal atau kemungkinan interpretasi lain dari sebuah angka.

Padahal angka 161 juta itu adalah data pelanggan yang menurut nalar saya diambil dari jumlah kartu perdana yang telah diaktifkan. Padahal saya saja punya 2 nomor yg masih saya gunakan saat ini, pembantu saya saat ini punya 3 nomor aktif, esia, mentari dan xl (mungkin ini korban perang tarif), karyawan di kantor saya rata-rata punya 2 nomor aktif antara CDMA dan GSM. Anggota milis ini saya tebak sebagian besar punya 2 nomor aktif. Itu baru perilaku kepemilikan, bagaimana dengan perilaku penggunaan?

Struktur pelanggan selular kita menurut info terakhir yang saya tahu tahun 2002 tak sampai 30% postpaid dan prosentasenya terus turun dari tahun ke tahun seiring dengan makin populernya pre-paid yg praktis, gak perlu repot. Kebijakan registrasi pre-paid pasca aksi-aksi terorisme, tak menurunkan kepopuleran dan kepraktisan pre-paid. Kalau anda beli nomor perdana pre-paid di manapun hari ini, si penjual dengan suka rela akan meregistrasikannya ke operator, mungkin dengan nama yg itu-itu juga dan pasti lolos di operator.

Tebakan saya hari ini pelanggan postpaid mungkin tinggal 10-15%. Saya sendiri hingga saat ini sudah lebih dari 7 nomor yang saya gunakan sekali saja saat di luar kota dan hanya ada satu atau dua jaringan operator yg bagus sinyalnya entah itu untuk percakapan atau pun lalu lintas data. Supir saya belum setahun bekerja sudah 2 kali ganti nomor hp krn nomornya kadaluwarsa telat isi ulang pulsa. Dan akan masih banyak pengguna lainnya yg melakukan hal itu, terutama masyarakat bawah. Buat mereka fungsi nomor selular hanyalah untuk nelpon bukan untuk membina relasi dan networking.

Dan di jaman perhelatan politik biasanya permintaan kartu perdana pre-paid dan voucher biasanya meningkat pesat untuk berbagai keperluan dan aktivitas kampanye, dari yang bersih sampai yang kotor. Yang saya tahu di tahun 2004 ada sebuah kios di ITC Kuningan yang dalam waktu sebulan menerima order pemesanan 30.000 kartu perdana, padahal biasanya sebulan cuma sanggup menjual 100 kartu perdana. Tampaknya ke-30rb kartu perdana berisi 20 rb pulsa itu cuma untuk sekali pakai krn si pemesan tidak membeli voucher pulsanya juga. Jumlah 20rb untuk keperluan menelpon di tahun 2004 paling cuma bisa mentok 14 menit.

Bisa dibayangkan kan, betapa bullishnya perhitungan bisnis industri telco yang pada akhirnya ketika semua sudah masuk dan kenyataan tak seindah yang dibayangkan, maka yang terjadi persaingan yang ketat dan berbagai cara dilakukan demi menyelamatkan perahu supaya tidak tenggelam atau kalau pun cut lost gak terlalu dalam.

Mungkin ada yg benar-benar pasang tarif murah banget demi untuk 'membunuh' pesaing yg lain. Tentu saja yg bisa melakukan hal ini adalah pemain besar tapi yg tentunya tidak kebesaran beban, supaya sacrificenya tdk kebanyakan yg mengganggu performa bisnis.

Antara analisa di atas kertas dan kenyataan bisa ketemu di sini yaitu Indosat dan XL lah yg paling berpeluang, sebab jika telkomsel menurunkan tarifnya Rp 50 saja, bisa kita hitung berapa besar penurunan pendapatannya krn punya 72jt 'pelanggan'. Laporan keuangan XL 2008 menunjukan penurunan keuntungan dari 2007, padahal belanja iklannya meningkat. Tapi hasilnya bisa kita lihat, peningkatan jumlah 'pelanggan'. Begitu juga dengan AXIS, 'pemain baru' yg bisa langsung menyodok dengan 3,5jt pelanggan. Jumlah 'pelanggan' yang dimiliki inilah tampaknya yang jadi ukuran sexy industri telco, selain ARPU.

Kembali ke kegalauan Bung Ridwan, boro-boro klien minta dibikinin iklan yg kreatif, beretika dan sebagainya, jangka pendek kapal ini harus dibikin sexy atau diselamatkan. Tapi ini cuma penilaian outsider, mungkin rekan-rekan dari agency yg menggarap telco bisa share lebih jauh, biar kita semua lebih paham kondisi sesungguhnya. Terutama menjawab tudingan sebagai pelacur...hehehe...

Cheers,

-iyo-

Photo: Iklan Indosat & XL, courtesy of http://bramrider.wordpress.com

Lagi, Tentang Etika Periklanan (1)

at 6/18/2009 • , , • View Comments

Pengantar

Seorang member di milis CCI membuat polling tentang Iklan Penyedia Jasa Telekomunikasi. Meskipun polling ini sangat terbatas, hanya untuk member milis, tapi ulasannya sangat menginspirasi. Atas ijin empunya, saya pos di blog ini tulisannya, juga salah satu ulasan yang mengomentarinya.


Isinya kurang lebih menyangkut etika periklanan, yang beberapa kali memang jadi bahasan menarik di milis, dan beberapa kali pula di posting di blog ini. Sudah banyak kegelisahan mengenai etika periklanan, yang mungkin cuma lewat telinga kiri, lalu mental keluar lagi (boro-boro masuk ke kepala dan keluar lagi lewat telinga kanan... :D).


Beberapa saat yang lalu saya juga membuat posting di blog probadi saya, mengenai iklan promo Telkom Speedy. Ini hanya salah satu contoh lain menurut saya, dimana iklan terkadang memang 'keluar batas', atau memang dengan sengaja melakukannya karena butuh publisitas. Semakin kontroversial semakin bagus, karena akan mengundang ketertarikan publik. Jadilah perbincangan dimana-mana, dan lalu berharap citranya terangkat.


Debat mengenai Klien adalah Raja, dan seterusnya, seringkali jadi alasan. Maka muncullah tudingan Advertising Agency telah melacurkan profesinya, demi kepuasan klien. Persoalannya tentu bukan sekedar hubungan buruh-majikan, tapi juga menyangkut hal lain, dalam hal ini adalah persoalan etika, baik yang (seharusnya) berlaku di dunia periklanan, maupun etika sosial yang berlaku di masyarakat. Pada tulisan saya yang lain, saya juga membahas masalah ini.

Tapi ada komentar lain yang juga menarik, Anda bisa simak juga dari link di bawah artikel utamanya. Selamat menikmati!

Ulasan hasil Polling Iklan Penyedia Jasa Telekomunikasi Selular


Dear all, Pertama-tama, saya ucapkan banyak terimakasih pada 159 orang anggota milist ini yang telah berpartisipasi. Seperti anda bisa lihat, polling yang ditutup pada tgl. 14 Juni 2009 menampilkan bahwa: 5% percaya pada iklan jasa telekomunikasi selular yang menjanjikan tarif termurah dan 95% tidak percaya pada isi iklan tsb.  Saya akan coba menganalisa hasil polling sederhana ini dari beberapa sudut. 


Pertama, dari sudut pandang etika periklanan (mengacu pada kitab Etika Pariwara Indonesia), jelas bahwa pernyataan "termurah" (suatu bentuk pernyataan superlatif) yang tidak didukung oleh fakta-fakta yang obyektif adalah tidak etis. Hasil polling ini menunjukkan bahwa lebih banyak anggota milist yang mendukung pedoman ini. 


Saya sangat bersyukur bahwa, entah sadar ataupun tidak, masih cukup banyak insan periklanan yang menjunjung etika. Padahal, ada yang bilang, bersikap etis itu sudah jadi barang langka di jaman sekarang. Etika periklanan sering dipandang secara negatif sebagai "pagar-pagar" yang membatasi kreatifitas. Pesan saya: bila anda mengaku insan periklanan tapi tidak peduli terhadap etika periklanan, lebih baik anda berpikir untuk mencari profesi yang lain! Kenapa demikian? 

Etika (untuk profesi atau bidang apapun juga) disusun berdasarkan tata budaya yang ada disuatu bangsa. Etika mengatur hal-hal yang dianggap normatif (diterima/dibenarkan) oleh kebanyakan masyarakat di suatu negara. Ada etika yang bersifat global, ada pula etika yang bersifat lokal. Dengan demikian seharusnya justru etika dipandang dengan sangat positif sebagai suatu panduan untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak akan diterima dengan baik oleh masyarakat (konsumen). Bukankah demikian pula tujuan dari suatu pesan iklan? Sederhananya, bila untuk memproduksi iklan kita harus memperhatikan "consumer insights", maka etika adalah juga "consumer insights" (dari sisi negatifnya, alias apa yang tidak disukai oleh konsumen). 



Kedua, dari sudut ilmu komunikasi periklanan: iklan pada dasarnya (esensinya) adalah suatu janji. Janji antara produsen/penyedia jasa dengan para konsumennya. Hasil polling ini jelas menunjukkan bahwa isi iklan dari penyedia jasa telekomunikasi selular yang menjanjikan tarif termurah ternyata tidak dipercaya oleh para konsumen mereka sendiri. Saya sengaja mengambil kasus iklan produk jasa penyedia telekomunikasi selular karena saya cukup yakin anggota milist ini (yang artinya notabene mempunyai akses internet) 99.99% juga menggunakan jasa telekomunikasi selular sehingga dapat disimpulkan dengan sederhana bahwa anggota milist ini juga adalah konsumen langsung (bahkan mungkin konsumen utama, mengingat usia anggota milist yang saya perkirakan juga rata-rata masih di antara 25- 35 tahun) dari produk ini. 


Masih dari sudut ilmu komunikasi, saya pribadi sangat heran bahwa bila ternyata konsumen sudah tidak percaya lagi dengan klaim-klaim sejenis itu, mengapa ya sampai dengan saat ini masih banyak praktisi periklanan (yg mungkin juga anggota milist ini) masih sering menggunakan klaim superlatif tanpa dukungan fakta yg obyektif? Kasus iklan penyedia jasa telekomunikasi selular dalam polling ini hanyalah satu contoh kecil. Masih banyak iklan dari kategori produk lainnya yang juga menggunakan klaim sejenis. 


Dalam laporan Badan Pengawas Periklanan (BPP) PPPI tahun 2005-2008 tercatat lebih dari 35% pelanggaran dari 346 kasus yang diamati oleh BPP adalah pelanggaran yang berakaitan dengan penggunaan klaim superlatif ini. Apakah anda salah satu yang membuatnya? Mengapa? Mungkin analisa berikut ini bisa menjawab :) 


Ketiga, dari sudut ilmu budaya: Ada beberapa hal yang bisa dibahas dari sudut ini. Pertama, alasan yang paling sering saya dengar bila ada biro iklan yang menggunakan klaim ini (walaupun biro iklan itu sangat sadar bahwa klaim itu berpotensi melanggar EPI) adalah karena "itu permintaan klien". 


Saya merasakan adanya pandangan yang sudah sangat melenceng dari jargon "klien adalah raja" disini. Dalam budaya manapun, raja akan didukung sepenuhnya oleh rakyatnya BILA raja itu memberikan hal-hal yang baik bagi rakyatnya dan tentunya harus mempunyai nilai etika yang tinggi pula. Bagaimana bila rajanya sudah tidak beretika lagi? Apakah kita masih harus dukung? 


Masih dari sudut ilmu budaya, dan yang berikut ini tampaknya lebih mendasar. Bangsa kita mungkin belum lepas dari trauma penjajahan.... padahal kita sudah 65 tahun merdeka... sudah satu generasi lebih lewat. Salah satu dampak dari penjajahan itu adalah hilangnya harga-diri bangsa kita. Seharusnya, setelah merdeka, harga-diri bisa bangkit. Tapi mungkin kepercayaan diri bangsa kita masih sangat rendah. 


Satu sisi mungkin karena masih adanya trauma itu (suatu mekanisme pertahanan diri dimana rasa takut yang kuat dilawan dengan "sok tampil PD"), di sisi lain mungkin karena kita merasakan bahwa memang bangsa ini "tidak punya modal" apapun. Akibatnya, sejak jaman awal kemerdekaan dulu, semua kecap di Indonesia dijual dengan merek Kecap No. 1!! Ternyata gejala "Kecap No. 1" ini sampai sekarang belum juga hilang! 


Dari sudut ilmu bahasa: iklan-iklan superlatif itu secara tidak disadari telah menggerogoti nilai tinggi dari bahasa. Pernyataan superlatif yang seharusnya mendapatkan penghargaan tinggi karena "dialah sang juara pertama, tak ada yang lain yang dapat mengalahkannya" ternyata dipakai dengan semena-mena sehingga runtuh dan tidak dipercaya lagi oleh masyarakat (konsumen). Iklan seharusnya sejalan dengan budaya suatu bangsa dan seharusnya pula memperkaya budaya tersebut…bukan malah menggerogotinya. 


Contoh lain yang cukup sering terjadi (tidak hanya di dunia iklan, tapi juga di bidang jurnalisme dan film), penggunaan kata "presiden, raja, ratu" dan sejenisnya juga telah mengalami proses penurunan makna yang drastis. Bila anda baca di kamus manapun juga, istilah-istilah tsb seharusnya digunakan dalam konotasi yang agung dan sangat positif. Tapi, misalnya, saat ini digunakan untuk jargon "raja copet, ratu korupsi" dsb. Menurut saya, ini bukan kreatifitas berbahasa, tapi lebih merupakan KEMALASAN dalam mencari alternatif berbahasa (ingat, bahasa Indonesia begitu kaya sebenarnya). 


Demikian dulu analisa saya atas hasil polling ini. Saya sadar, tidak semua orang kreatif suka membaca teks sepanjang ini…tapi bila anda telah membacanya sampai baris ini, saya ucapkan selamat dan terimakasih! Semoga berguna. Beberapa hari ke depan, saya akan posting cerita lain yang masih berkaitan dengan kegiatan polling ini, tapi lebih bersifat "side story". Hidup Pariwara Indonesia yang beretika! 


- Ridwan -


=======================================


Komentar dari member lain saya buatkan di post berikutnya, karena disini sudah terlalu panjang.


Photo: Courtesy of http://pramudyaputrautama.wordpress.com/

Media Literacy - BeConfident

at 6/17/2009 • , , • View Comments



Terinspirasi oleh kegiatan CreAdtive yang diselenggarakan mahasiswa FIKOM UI, bertema Be Confident, You're All Born Beautifully...

Lengkapnya ada di sini.

Masih tentang Iklan: Banyak yang Menyesatkan

at 12/04/2008 • , • View Comments


Jakarta, Kompas - Banyak iklan produk kesehatan menyesatkan dan tidak mendidik. Kondisi ini merugikan masyarakat selaku konsumen. Untuk itu, pemerintah harus segera menertibkan promosi produk kesehatan yang menyesatkan itu.
Kalau dalam post yang lalu kita bicara soal iklan politik, barusan ada artikel dari Kompas mengenai iklan kesehatan. Kali ini ada pihak yang mulai angkat bicara, lalu kapan ada yang angkat bicara soal iklan politik? Terutama menyangkut peraturan, seperti yang diungkapkan YLKI berikut:
Padahal, dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen disebutkan materi iklan harus jelas, benar, dan jujur. Pada iklan obat, pengiklan harus mencantumkan informasi apa penyebab timbulnya keluhan, dan tidak boleh menjadikan tenaga kesehatan sebagai model iklan.
Iklan politik kita juga banyak yang menyesatkan, omong kosong, tapi sayangnya tidak pernah masuk dalam kategori kebohongan publik. Kalau mau jujur, iklan-iklan lain juga banyak yang sama-sama menyesatkan. Lalu kapan ada tindakan? Siapa yang harus menindak?

Iklan Pemilu - Ikrar Nusa Bhakti

at 11/28/2008 • , , • View Comments



Nyambung tulisan sebelumnya mengenai fenomena iklan belakangan ini, ada sebuah tulisan yang tak kalah menarik dari pengamat politik kita. Silakan disimak.

Iklan Pemilu Oleh Ikrar Nusa Bhakti, Kompas Jumat, 28 November 2008

Saat menjadi narasumber Rapat Kerja Kontras di Cipanas, Jumat (21/11/2008), Robertus Robet—dosen UNJ dan Sekjen Perhimpunan Pendidikan Demokrasi—mengatakan, ”Iklan politik di televisi lebih banyak bohong daripada melakukan pendidikan politik pada rakyat. Seperti iklan obat, mana mungkin orang sembuh sakitnya sepuluh menit setelah minum obat.”

Sehari kemudian (22/11/2008) saat mempertahankan disertasi doktor bidang filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, seorang penguji bertanya, ”Jika Slavoj Zizek, filsuf Slovenia, datang ke Indonesia melihat praktik kapitalisme kontemporer di negeri ini, kira-kira apa komentarnya?” Robet menjawab, ”Dia akan heran melihat sinetron-sinetron Indonesia yang banyak bercerita soal surga dan neraka. Rupanya orang Indonesia lebih mudah melihat masa depan yang belum menentu—surga dan neraka—daripada menyelesaikan masalah di depan mata, misalnya kasus lumpur Lapindo.”

Zizek lahir dan besar di Yugoslavia, negara komunis yang demokratis di era Tito. Zizek suka film Hollywood, menganalisisnya dari filsafat antropologi. Atas jawaban yang tangkas, serius, tetapi santai itu, Robet—alumnus Sosiologi FISIP UI 1996 dan University of Birmingham 2002—lulus dengan predikat cum laude.

Iklan Politik 
Sayang, kepada Robert tidak ada yang menanyakan komentar Zizek jika melihat iklan kampanye pemilu di televisi atau di media cetak Indonesia. Kampanye pemilu selama sembilan bulan menarik dianalisis. Ada yang sudah start sebelum kampanye resmi diumumkan, tetapi tidak didiskualifikasi. Ada yang start langsung berlari sprint, lalu terengah-engah berhenti di tengah jalan karena kehabisan dana. Ada pula yang berhenti total dan menarik diri dari ”lomba maraton” karena kekurangan suporter.

Padahal, kalimat yang didengungkan amat bertuah, If there is a will, there is a way. Iklan ini terlalu elitis. Sang pembicara mungkin lupa, banyak orang Indonesia tak paham bahasa Inggris. Ada pula iklan Garuda perkasa yang terbang di angkasa, yang bicara soal petani atau pedagang kecil di pasar tradisional. Napas dan energinya begitu kuat.

Partai Demokrat dan Presiden Yudhoyono sering memakan setengah halaman depan Kompas dengan iklan ”keberhasilan” pemerintahannya. Mengingat posisinya di pemerintahan, ada pula iklan politik terselubung di televisi dan radio yang menggebu- gebu tentang ”PNPM Mandiri” dari nelayan, penganggur yang berhasil di Ambon, posyandu, tukang jahit, sampai taman kanak-kanak. Namun, tak ada yang mengkritisi berapa besar dana yang terserap dan dirasakan rakyat melalui program itu dibandingkan pengeluaran untuk iklan politiknya. Juga tak ada yang mengomentari, apakah acara kuliah subuh Menteri Negara Pemuda dan Olahraga di TVRI sesuai tugas pokok dan fungsinya.

Dalam dua pekan terakhir, ada empat iklan politik baru yang muncul, dari Amien Rais yang siap menjadi ”pemain cadangan”, dari PDI-P yang menonjolkan ”100 Hari Pertama” pemerintahan Megawati Soekarnoputri, Iklan Partai Golkar dengan penonjolan Karya untuk bangsa, dan iklan PKS yang membangun optimisme dengan becermin pada karya pahlawan dan guru bangsa masa lalu, yang menuai kritik.

Spanduk PKS juga berujar, ”Pahlawan adalah Buruh atau Pahlawan adalah Pemuda, yang Berjuang untuk Kemajuan dan Kemandirian Bangsa.” Iklan politik PKS brilian dan berani, termasuk political marketing gaya baru, meski dikritik banyak pihak.

Miskin visi masa depan 
Berbagai iklan politik dan pemilu itu miskin visi masa depan. Iklan-iklan itu hanya menjual kemiskinan, mimpi, dan program jangka pendek, tanpa substansi isi keprihatinan bangsa dan bagaimana cara mencapai cita-cita masa depan bangsa. Ini berbeda, misalnya, kampanye Bill Clinton dengan kata bertuah, It’s Economic, Stupid yang membeberkan visi memperbaiki nasib anak AS 100 tahun ke depan atau kampanye Barack Obama dengan slogan Yes, We Can yang mewujudkan hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Tak ada partai politik atau calon presiden yang berani mengatakan, kita akan menghadapi situasi sulit 3-5 tahun ke depan akibat krisis global. Ekonomi Indonesia belum pulih akibat krisis 10 tahun lalu dibandingkan Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan, dan kita sudah harus menghadapi krisis ekonomi lebih dahsyat. Terpikirkah oleh elite politik bangsa, pendekatan ekonomi apa yang harus diambil Indonesia guna mengatasi krisis. Jika ia seorang neoliberal yang pro-pasar dan pro-kapitalisme, langkah apa yang akan diambil?

Beranikah Megawati Soekarnoputri menelurkan gagasan nasionalistis bertumpu pada marhaenisme di tengah serbuan komprador kapitalis barat? Jika ia anti-IMF dan pro-kemandirian bangsa di tengah kapitalisme dan globalisasi, seperti Rizal Ramli, langkah apa yang akan diambil? Beranikah Rizal Ramli berkolaborasi dengan Revrisond Baswir dan Sri Edi Swasono mengambil langkah berbeda dengan arus kapitalisme global?

Bagaimana mereka mengajak rakyat bahu-membahu memperbaiki nasib bangsa yang terus menjadi ”bangsa kuli”? Ideologi apa pun yang dianut, liberalisme, sosialisme, atau konservatisme (agama dan atau budaya) harus mampu menjawab tantangan bagaimana kita keluar dari krisis ini.

Para pemilih kian jeli dengan politik transaksional dalam arti positif, yaitu siapa yang memiliki visi dan program jangka panjang mengatasi krisis multidimensi yang dihadapi bangsa, dia atau partainya yang dipilih. Kampanye politik bukan sekadar menebar mimpi untuk menuai kekecewaan, tetapi menebar program realistis yang dapat dilakukan lima tahun ke depan agar bangsa ini keluar dari krisis.

Ikrar Nusa Bhakti, Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI | Blog http://ikrarnusabhakti.wordpress.com/

Iklan Politik dan Politik Iklan

at 11/03/2008 • , , • View Comments




Masa kampanye, iklan-iklan politik berjubel di media. Di tivi, di koran, di internet, di jalan-jalan, semua dipenuhi iklan-iklan politik. Di antara iklan-iklan itu, entah mana yang jujur, dan mana yang tidak. Sulit dipercaya, ruang publik kita dipenuhi dengan jargon-jargon yang seringkali berlebihan, tidak masuk akal, dan keterlaluan.

Memangnya pemirsa ini orang-orang bodoh? Iklan-iklan ini seringkali mempolitisir isu tertentu untuk kepentingannya. Naiknya harga BBM, dijadikan isu iklan salah satu kandidat capres, untuk menyerang kandidat yang lain. Posisi di sebuah lembaga yang tak ada urusannya dengan politik, dibawa-bawa ke dalam isu yang diarahkan salah satu capres sebagai modal kampanye. Uhm... Kemana para pengawas etika periklanan kita?

Kalau PKS, lebih nekad lagi. Menempatkan Soeharto sebagai salah satu pahlawan, sejajar dengan Soekarno, Soedirman, Ahmad Dahlan, dll. Ini ada apa ya? Bukankah Soeharto belum resmi diberi gelar Pahlawan? Ini salah satu politisasi iklan yang 'agak parah'. PKS sedang bunuh diri? Atau mau merebut simpatisan Soeharto dari Golkar?


Artikel lain yang berhubungan:

Selingan: Out of Topic of The Year

at 7/16/2008 • , • View Comments

Ini asli iseng. Nggak ada hubungannya dengan desain, gak ada hubungannya dengan iklan, pokoknya out of topic abis lah. Biar gak serius banget, soalnya ini berita sempet hot juga di internet. Model seksi yang keturunan Aceh ini diusir dari kampungnya lantaran ketauan berpose 'seksi' di majalah Playboy. Hehehe... katanya dia sih, *pake f*** word segala* gara-gara manajernya yang menyebarluaskan foto tersebut. Nah, karena sudah tersebar luas, maka kita sebarin aja lagi biar lebih luas... Daripada penasaran kan... Huehehe...
Lagian, kasus-kasus membocorkan "file-file" rahasia kayak gini kok gampang banget ya? Internet memang keren lah... Laporannya ada disini.
Zemanta Pixie

Ads vs. Reality

at 3/27/2008 • • View Comments



Masih ingat jaman Fuji Film membuat tag line "Seindah Warna Aslinya"? Nah iklan pada umumnya mempraktekkan hal yang berlawanan. Apa yang ditayangkan iklan seringkali jauh lebih indah dari aslinya, sehingga potensial membuat konsumen tertipu.

Video ini mencoba mengungkap perbedaan kontras antara apa yang Anda lihat di iklan, dengan fakta sebenarnya. Beberapa di antaranya memang produk makanan.

Efek Sinetron dalam Iklan Ponds

at 1/18/2008 • , • View Comments

Episode #1



Episode #2



Episode #3



Episode #4



Episode #5




Iklan Ponds yang kayak sinetron ini memang bikin gregetan. Terutama kalau Anda yang doyan sinetronan. Pendekatan iklan cerita selayaknya drama ini rasanya memang pantas kalau yang dituju memang khalayak ibu-ibu muda, atau remaja putri yang doyan nyinetron. 

Terlepas bahwa ceritanya tidak memiliki dampak langsung pada subyek iklan,  bahkan cebderung mengada-ada, dari sisi eksekusi harus diakui iklan ini memang menarik. Diproduksi di Thailand, dengan model Thailand pula, makanya kecantikan dan ketampanannya tidak berbeda jauh dengan pribumi.

Cuman, kenapa harus selalu putih sih? *hmm...*

Talk to Your Daughter before Unilever Does

at 1/07/2008 • , , • View Comments




Dove ad directed by Tim Piper.
Art Directors: Stuart Campbell, Mike Kirkland, Sharon Lee Pan. Written by Tim Piper.
Account handled by Aviva Groll and Mike Hemingway.
Exec Producer: Brenda Surminski, Producer: Jeff McDougall
DP: Marc Laliberte-Else (inc Ray Dumas)
Post: Soho (editors Kevin Gibson/TP), Sound: Vapor, Song: La Breeze, by Simian
Campaign for Real Beauty credits include Dennis Lewis and Malcolm Poynton from Ogilvy London.


Dove pernah membuat seri kampanye Onslaught, tujuannya memperingatkan orang tua agar anak mendapat informasi yang lengkap mengenai konsep kecantikan bukan dari industri. Secara tidak langsung ia mau bilang, jangan percaya dengan iklan tentang kecantikan, karena mempromosikan kulit putih sebagai bagian dari syarat kecantikan, atau konsep berat badan. Proses pembuatan iklan itu bisa dilihat di sini.

Iklan yang berupa film pendek ini, direspon oleh banyak sekali blog dan film pendek pula. Misalnya dari blog PSFK Conference New York, yang menulis begini:

Dove’s intention may be good, but the irony of the campaign has not gone unnoticed. Filmmaker Rye Clifton offers a response to the film, with a mash-up short of his own called “A Message from Unilever” (view it below). In it, he contrasts the contradictory messages put out by the corporation that owns both Dove and Axe, the latter known for its ads featuring scantily clad sexpots (whose parents apparently didn’t talk to their daughters before the beauty industry did) vying for the attention of horny Axe-sprayed men.
Tidak saja mengkritik Dove, tapi kritik juga dialamatkan kepada perusahaan empunya brand Dove dan Axe, Unilever. Kontradiksi Dove, yang juga pelaku industri kecantikan, mengundang kontroversi dengan iklan Onslaught-nya tersebut. Rye Clifton melalui film pendek berikut ini, menunjukkan bahwa Unilever, yang ada di belakang Dove dan Axe, tidak benar-benar "jujur" dalam kampanye Onslaught. Interview menarik dengan Rye dapat Anda baca di blog Shaping Youth.





Kritik lain, bisa juga dibaca dari blog Punk Planning, yang menampilkan data kualitatif menarik tentang segmen iklan kecantikan di wilayah Asia. Ironis, karena manusia Asia memang pada dasarnya dilahirkan dengan kulit tidak seputih orang Eropa atau Amerika. Hasil FGD ini membuktikan, bahwa karena gencarnya iklan mengkampanyekan kulit putih sebagai indikator kecantikan, orang Asia kini berpersepsi bahwa orang berkulit gelap adalah mereka yang "kampungan". Penulis blog itu sampai menyarankan kepada Dove, agar memberi disclaimer dalam iklannya, bahwa mereka mengakui semua warna kulit di muka bumi ini!


Sementara itu, iklan Onslaught ini ternyata juga menginspirasi GreenPeace, untuk bicara tentang Illegal Logging di Indonesia, berkaitan dengan Palm Oil yang digunakan Dove dalam produk mereka. Keren!

Lagi, tentang Etika Periklanan

at 12/22/2007 • , , • View Comments


Lagi, tentang etika periklanan. Iklan ini adalah iklan clothing, ditolak di Amerika karena kata Get Brain itu artinya juga oral sex! Iklan ini sempat dipasang di bus kota New York, tapi kemudian oleh DAMRI-nya kota New York, iklan ini ditolak. Si empunya akhirnya juga menyadari, bahwa kata-kata itu memang bermakna ganda, dan bisa membawa pesan yang buruk. Koleksi lengkap iklan-iklan yang ditolak bisa dilihat disini: Best Rejected Advertising. Nah lho, bukan di Indonesia saja kok iklan-iklan bisa ditolak...

Iklan Teluk Buyat Dinilai Menyesatkan

at 10/23/2004 • , • View Comments

Jakarta, Kompas - Iklan tentang Teluk Buyat yang dimuat berbagai surat kabar dan stasiun televisi dinilai sebagai bentuk penyesatan informasi. Karena itu, sejumlah organisasi nonpemerintah mengimbau agar media massa tidak menurunkan lagi iklan serupa.

Hal tersebut dikemukakan sejumlah aktivis organisasi nonpemerintah (ornop) dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (21/10). Di antaranya hadir Siti Maimunah dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), P Raja Siregar dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan Kurniawan Adi Nugroho dari Tim Advokasi Pembela Aktivis Lingkungan (TAPAL).

Iklan yang dipersoalkan terutama di bawah judul Studi WHO Simpulkan Tak Ada Pencemaran di Buyat disertai subjudul Newmont: LSM Harus Bertanggung Jawab Atas Kepanikan Akibat "Mis-informasi". Iklan memuat kesimpulan hasil penelitian National Institute for Minamata Disease bersama Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) dan Departemen Kesehatan, yang menurut iklan PT Newmont Minahasa Raya (NMR) menyimpulkan bahwa tidak ada polusi di Teluk Buyat.

Serial iklan Teluk Buyat dipasang oleh PT NMR sejak 14 Oktober di berbagai koran dalam format advertorial berukuran seperempat halaman. Iklan di televisi berdurasi 90 detik juga menayangkan hasil penelitian National Institute for Minamata Disease dan WHO.

"Informasi iklan tersebut menyesatkan. Sebab, studi WHO tidak menjelaskan kondisi lingkungan secara keseluruhan dan tidak menjawab penyakit apa dan apa penyebab penyakit yang diderita warga Buyat," ungkap Siregar.

Ia menambahkan, studi WHO bersama National Institute for Minamata Disease hanya mengkaji kontaminasi logam merkuri dan metilmerkuri. Padahal, Teluk Buyat diduga kuat tidak hanya tercemar merkuri. "Ruang lingkup studi itu tak dapat dipakai untuk menarik kesimpulan lebih luas mengenai lingkungan Teluk Buyat," ujarnya.

Manajer Hubungan Masyarakat Newmont Kasan Mulyono menanggapi protes dari ornop dengan mengatakan, materi dalam iklan-iklan tersebut sesuai dengan fakta yang ada.

Pengamat periklanan M Gunawan Alif mengatakan bahwa suatu iklan harus memuat kenyataan yang sebenarnya dan tidak melebih-lebihkan fakta.

Pakar komunikasi dari Universitas Indonesia Effendi Gazali menambahkan, masyarakat bisa mengalami ketidakpastian atau disonansi kognitif dengan adanya dua realitas media yang bertentangan, antara infomersial di televisi dengan berita penyidikan dan penahanan tersangka Kasus Buyat yang belum tuntas. (LAM)

Baca juga: Iklan Teluk Buyat dan Sensibilitas Media

Sumber: Kompas, Jumat, 22 Oktober 2004 | http://www.kompas.com/kompas-cetak/0410/22/utama/1341231.htm [deadlink]

Iklan, Mencerdaskan atau Membodohi Masyarakat?

at 9/11/2004 • , • View Comments

KESEPAKATAN mutlak memang tidak selalu bisa disepakati oleh semua orang. Seperti juga iklan yang merupakan salah satu bentuk komunikasi, standar perbaikannya selalu berubah-ubah seiring dengan perkembangan zaman.

"Realitas itu juga persepsi yang diuji dan diuji lagi. Inilah realitas hidup," kata psikolog dan budayawan Darmanto Jatman. Kreativitas yang dimiliki para pembuat iklan dan teknologi yang digunakannya memang semakin maju, membuat hasrat konsumtif masyarakat semakin tinggi.
Darmanto mengatakan, orang akan menemukan nilai-nilai artistik yang tinggi dalam iklan, yaitu sensual, sensasional, spektakuler, dan glamor seperti produk-produk Hollywood.

Para pengamat boleh jadi setuju bahwa dari segi artistik, bidang periklanan sudah begitu canggih. Seperti yang dikatakan Darmanto, "Dulu, iklan belum seartistik seperti sekarang. Mungkin sudah menarik perhatian dan membuat orang punya hasrat mencoba, namun jelas belum punya capaian-capaian keindahan yang membuat orang terkagum-kagum."

Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan kesantunan dalam beriklan. Kalimat-kalimat yang menuding bahwa iklan merusak perilaku konsumen, bukan merupakan budaya, tidak memberi pencerahan kepada konsumen, dan membodohi masyarakat acap kali terdengar.
PERNYATAAN tersebut berusaha ditanggapi dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) VIII Persatuan Perusahaan Iklan Indonesia (PPPI) yang berlangsung tanggal 8-10 September 2004 di Bandung.

Para pembicara yang diberi kepercayaan untuk memberikan tanggapan adalah budayawan Harry Roesli, anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Huzna Zahir, pengamat periklanan Dana Iswara, serta psikolog dan budayawan Darmanto Jatman.

Dari sudut pandang seorang psikolog, Darmanto mengakui bahwa cara rumah produksi beriklan sudah semakin cerdas dengan menciptakan dunia tersendiri lengkap dengan maknanya. Dalam sebuah iklan rokok dengan gambar teko seng, misalnya, dicantumkan tulisan "jangan harap yang keluar susu bila yang dimasukkan kopi".

Hubungan antara teks dan produk yang diiklankan memang tidak ada, tetapi melalui terjemahan bebas, kata-kata itu sungguh pas bila dikaitkan dengan kampanye pemilu presiden seperti sekarang.
Ketika cara berpikir pembuat iklan menjadi semakin independen dan mengembangkan diri jauh dari persepsi masyarakat secara umum, seharusnya muncul gerakan untuk kembali memenuhi kebutuhan dasar konsumen. (J15)

Sumber: Kompas, 11 September 2004 - Nusantara | http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/11/daerah/1261966.htm [deadlink]

Pengaruh Iklan Televisi pada Anak..!

at 9/10/2004 • • View Comments

KCM - Senin, 06 Oktober 2003, 9:04 WIB

"JIKA saya berbelanja di pasar swalayan dengan anak, mata saya harus waspada. Sering kali, anak saya memasukkan makanan yang tidak boleh dimakannya. Bukan karena dia ingin makan makanan itu, tetapi dia ingin hadiah yang ada di dalam kemasan makanan itu," kata Susan (31) tentang Rian, putranya yang berumur tujuh tahun.
MENURUT Susan, Rian termasuk "korban" iklan yang ditayangkan televisi. Setiap kali di televisi ada iklan tentang mainan, dia pasti ribut minta dibelikan. "Koleksi robot Digimon saja, dia punya 32 buah. Lengkap. Padahal, harga satu robot mencapai Rp 100.000. Ayahnya yang membelikan. Saya hanya bisa mengomel karena barang telanjur dibeli," ujar Susan yang tinggal di kawasan Kramat, Jakarta Pusat.

Selain mainan, Rian juga menyukai barang-barang lain bergambar tokoh kartun idolanya. Rian mempunyai sepatu bergambar Spiderman. Dia juga memiliki dua pasang sepatu dengan model dan gambar yang persis sama, hanya warnanya yang berbeda. "Dia mempunyai sepatu berwarna biru dan merah. Kalau ada sepatu yang warnanya hitam, pasti dia minta dibelikan juga," kata Susan.

Menurut Susan, Rian mengetahui produk-produk itu dari iklan yang ditayangkan di televisi. Begitu banyak iklan di televisi yang diminta anaknya membuatnya sadar bahwa dia mesti mengontrol keinginan anaknya kalau tak ingin si anak tumbuh menjadi sosok yang konsumtif.

"Kalau dituruti, dia bisa minta semua barang yang diiklankan, dari makanan sampai sepatu. Akan tetapi, saya hanya mengizinkan dia membeli barang yang benar-benar diperlukannya. Kalau mainan yang merupakan hadiah dari sebuah produk, saya memilih yang ada unsur edukasinya. Misalnya robot bongkar pasang. Makanannya sendiri belum tentu dimakan karena Rian termasuk anak yang sulit makan," ujar Susan.

Fenny (34), warga Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, mengaku putranya, Nico (5), selalu meminta dibelikan susu dengan berbagai macam merek. Nico selalu tertarik dengan iklan susu, apa pun mereknya. "Wah, yang ini susunya enak, Ma." Atau, "Ma, beliin susu ini dong, ada gelas kocok-kocoknya," kata Nico.

Fenny biasanya mau membelikan apa saja merek susu yang diinginkan Nico asalkan putranya mau minum susu, meskipun sebenarnya dia khawatir berganti-ganti merek susu bisa mempengaruhi kesehatan anaknya.

TAYANGAN untuk pemirsa anak-anak di televisi sudah sering dibahas dan dikritik. Dilihat dari jam tayang acara anak, masih ada stasiun televisi yang tidak menyesuaikan jam tayangnya dengan umumnya waktu belajar anak. Hal ini mengakibatkan banyak kegiatan wajib anak, seperti sekolah, tidur siang, maupun belajar, menjadi terganggu karena anak ingin menonton acara televisi.

Misalnya ada stasiun televisi yang memutar acara anak pada pukul 14.00 saat anak harus tidur siang. Ada juga stasiun televisi menyajikan acara anak pada pukul 17.30 sampai 19.30 saat anak harus belajar. Hal itu mengakibatkan konsentrasi anak terpecah, antara ingin menonton dan keharusan belajar.

"Memaksa anak belajar pada jam-jam tayang tersebut juga percuma. Anak menjadi tidak bisa berkonsentrasi karena memikirkan film itu terus," kata Susan yang berusaha selalu mendampingi putranya menonton acara televisi.

Orangtua sebaiknya mendampingi anak ketika mereka menonton televisi. Dari pengalaman Susan, anak bukan hanya cepat terpengaruh oleh cerita film yang ditayangkan, tetapi juga iklan-iklan yang disisipkan pada acara untuk anak-anak itu.

"Pada acara untuk anak sering ditayangkan iklan komersial yang tidak ada hubungannya dengan anak. Misalnya, slot iklan film Mega Ranger yang ditayangkan RCTI beberapa waktu lalu, dimunculkan iklan pemutih wajah. Pesan iklan itu, ’hanya mereka yang kulit wajahnya putih yang disebut cantik’. Ini kan tidak benar," cetus Susan.

Ada juga iklan minuman sari buah yang melarang anak memilih buah asli dan mengatakan sari buah buatan itu jauh lebih baik daripada buah asli karena sudah ditambahkan vitamin lain ke dalamnya.

TELEVISI yang menjadi hiburan gratis untuk setiap rumah tangga merupakan media yang sangat efektif untuk iklan. Iklan bisa disisipkan pada slot iklan dalam tayangan untuk anak. Iklan semacam ini bisa efektif sebab anak bisa menjadi salah satu pendorong keputusan belanja orangtuanya.

Dalam penelitian yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), bekerja sama dengan Consumer International-Regional Office for Asia and the Pacific (CI-ROAP) tahun 2002, disebutkan bahwa anak menduduki posisi kedua dalam mempengaruhi seseorang untuk membeli produk makanan yang diiklankan.

Apa pun tingkat keuangan keluarga, rendah, menengah, maupun tinggi, anak menduduki posisi kedua sebagai faktor yang mempengaruhi keputusan orangtua untuk membeli sesuatu barang. Posisi pertama diduduki oleh diri sendiri dan tempat ketiga adalah pasangan (suami/istri) atau anggota keluarga yang dewasa.

Banyak faktor yang membuat anak ingin membeli produk yang diiklankan. Faktor tertinggi sebab mereka memang memerlukan produk tersebut (37 persen), kemudian menyukai produk yang diiklankan (32 persen), iklannya menarik (21 persen), dan sebab model pada iklan tersebut (13 persen).

Ada juga anak yang ingin membeli produk karena merek, pengaruh teman sebaya, iklan yang diulang-ulang, kemungkinan menang undian, adanya penawaran hadiah langsung yang menarik, dan gengsi.

Menurut Harry Susianto, psikolog konsumen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, iklan memang dibuat agar produk tersebut dibeli oleh konsumen. Namun, Harry mengatakan, iklan yang dilihat oleh seorang anak berusia 3-7 tahun tidak akan mengakibatkan anak menjadi konsumtif.

Jika melihat iklan televisi, anak usia tersebut belum bisa membedakan antara kenyataan yang sebenarnya atau buatan. Anak usia 3-7 tahun memang akan meminta orangtua untuk membelikan produk itu. Namun, jika orangtua tidak membelikannya, hal itu tidak menjadi masalah.

"Semuanya tergantung pada orangtuanya. Jika orangtua membiasakan, atau memandang produk itu memang diperlukan, ia pasti akan membelikannya. Namun, itu berarti orangtua yang membiasakan anak berbelanja produk yang diiklankan," ujar Harry.

Harry mencontohkan, ada orangtua yang memborong sebuah produk karena iklannya mengatakan produk itu sedang menyelenggarakan undian berhadiah. "Melihat orangtua memborong barang hanya untuk mengejar undian tersebut, anak pun akan belajar seperti itu," kata Harry.

Menurut Harry, sebaiknya orangtua dan guru memberikan penjelasan yang benar kepada anak tentang iklan. Misalnya, jika ada sebuah produk baru yang ditawarkan, tanyakan kepada anak, apakah produk itu benar-benar diinginkan anak? Apakah makanan itu benar-benar seenak yang tampak di televisi? "Tidak ada salahnya jika orangtua atau guru mengambil waktu sejenak untuk menjelaskan soal iklan kepada anak."

Anak usia di atas tujuh tahun, menurut Harry, biasanya sudah bisa menentukan sendiri apakah produk yang diiklankan itu benar-benar dibutuhkannya. "Anak-anak itu sebenarnya sudah tahu mana hal yang nyata dan mana yang bukan. Misalnya, produk makanan, kalau dia ingin membeli, bisa berarti hanya ingin mencoba atau dia memang sudah tahu bagaimana rasanya," kata Harry menambahkan. (ARN)

Sumber asli: http://www.kompas.com/kesehatan/news/0310/06/085718.htm (dead link)