 |
| ilustrasi gambar dari justcreative.com |
Masih ingat bagaimana dulu
Corporate Identity (CI) jadi buah
bibir di kalangan desainer grafis? Masih ingat bagaimana pelaku CI tidak
mau disamakan dengan perancang logo? Masih ingat juga bagaimana
kemudian CI ada dimana-mana, menjadi rancu dan banyak terjadi salah
kaprah?
Sekarang datang
branding.
Branding jadi buah bibir di desainer grafis. Bahkan juga di lingkup
advertising, marketing, sampai
sales.
Branding tidak dapat disamakan dengan sekedar logo.
Brand dan
Branding ada dimana-mana, sekarang mulai jadi rancu dan juga banyak terjadi salah kaprah.
Apakah
branding itu CI yang berganti baju? Buktinya Wally Olins dan perusahaan Landor, yang dulunya konsultan CI, sekarang jadi konsultan
branding! Bisa jadi begitu. Lalu bagaimana caranya kita mengetahui identitas sebenarnya dari
branding? Mari, kita mulai mencari tahu dari yang mengaku
branding tapi sebenarnya bukan
branding.
BRANDING ADALAH MEMBUAT LOGO
Semua sudah tahu bahwa ini salah kaprah. Tetapi sudah tahu salah, kok masih banyak yang memperlakukan
branding sama dengan membuat atau merubah logo? BNI 46 dan Pertamina memproklamirkan diri mereka melakukan
re-branding.
Padahal yang mereka rubah hanya logonya saja, tidak ada perubahan dalam
perusahaan yang setara dengan perubahan logonya. Bahkan BNI nyaris
tidak menghasilkan dampak apa-apa.
Pertamina lebih lumayan, tetapi yang
diperbaiki hanya membuatnya menjadi perusahaan yang memenuhi standar:
pom bensin jadi baru dan bersih, serta pelayanannya jadi lumayan ramah.
Dimana-mana perusahaan yang
re-branding memang harus begitu.
Seharusnya dengan tingkat logo yang berubah jauh itu, internal Pertamina
juga berbenah diri, bersih-bersih, makin efisien, makin agresif secara
lebih signifikan. Barulah disebut ada
branding. Silahkan baca juga
disini penjelasan lebih detail tentang
Branding, Identity &
Logo.
USAHA KECIL MENENGAH (UKM) TIDAK PERLU BRANDING
Branding adalah program mengendalikan citra
brand/perusahaan
di benak pemerhatinya. Pemerhati yang utama adalah internal perusahaan
tersebut. Jadi, kalau UKM sudah punya pegawai, pemilik UKM harus sudah
mulai mem-
branding-kan usahanya, agar pegawainya betah dan
bangga, misalnya pemilik harus mulai menjelaskan konsep UKM berbisnis,
mau dibawa kemana (visi), dan apa keuntungan jadi pegawai. Itu sudah
langkah awal
branding.
Kalau UKM telah punya rekan bisnis,
branding
makin diperlukan. Kita perlu membuat rekan jadi tahu perusahaan kita,
lingkupnya apa, arahnya ke mana, sehingga akhirnya jadi percaya untuk
bekerjasama. Itu juga
branding. Apalagi kalau UKM sudah punya
konsumen. Produknya harus bagus dan bermanfaat, kemudian dikemas,
dipasarkan dan didistribusikan supaya utuh sampai di tangan konsumen.
Supaya konsumen ingat dan tertarik, perlu diberi identitas dan daya
tarik lainnya. Supaya fokus, efisien, dan efektif, semua proses produk
sampai ke konsumen harus berdasarkan satu konsep yang jelas. Itu juga
branding. (Sumber: Versus- Issue 01.08)
Nah, dari dua point salah kaprah ini, apa yang bisa kita pahami? Intinya,
branding itu bukan pilihan, sengaja atau tidak, kita sudah melakukan
branding. Pilihannya adalah mau
branding secara baik atau buruk, mau di program atau dibebaskan, mau integral atau acak-acakan.
Nantikan tiga point penting lainnya dalam tulisan Saya berikutnya di hari Senin yang akan dibahas tentang
branding itu adalah program efisiensi, keputusan bisnis tanpa prinsip
branding, harus siap-siap menanggung resiko.
Buat yang mau belajar tentang
Branding, hari Senin (23/9/2013)
Creasionbrand.co.id
akan mengadakan Bizzdate dengan tema “THE RISE OF TRANSMEDIA
ENTERTAINMENT”. GRATIS!! Hanya untuk 15 orang. Silahkan lihat infonya
disini.
Berikutnya
masih di hari Senin (23/9/2013) dan masih ngebahas tentang Branding,
kali ini dari GIMBFOUNDATION.org dengan tema “All about Branding”.
GRATIS!! Hanya untuk 50 orang. Silahkan lihat infonya
disini.
Tentang penulis klik
disini.