DKV UNPAS Bandung: Advertising

Arakanlebah, Komunitas DKV UNPAS Bandung

Tampilkan postingan dengan label Advertising. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Advertising. Tampilkan semua postingan
Saya dapet kesempatan gabung di tim artnya the bastart untuk bantuin bagian grafis dan pop up set untuk bikin TVC Dunlop 2014, yang dipimpin Eqi Burhan sebagai Art Directornya yang merupakan alumni DKV Unpas angkatan 1999. Konsep iklan yang diminta yaitu media kertas dan pop up dengan teknik stop motion. Semua properti terbuat dari kertas, namun karena kendala teknis ada beberapa properti yang bukan berbahan kertas tetapi tetap dilapisi kertas, untuk menjaga kesinambungan konsep. Properti utama adalah 3 ban "kertas" ukuran 1:1 (saya kasih tanda kutip pada kata kertas karena ini adalah property yang dilapisi kertas, rangka utamanya terbuat dari akrilik), ban kertas ukuran kecil. mobil, dan dua Pop up set yang dibuat mengikuti bentuk ban. pada pembahasan ini saya hanya akan membahas proses perancangan properti dalam produksi TVC dunlop 2014 ini.

Proses Produksi dan Perancangan Properti TVC Dunlop 2014

Perancangan desain dan bentuk properti berdasarkan kepada Storyboard dan meeting bareng Sutradara dan tim. Setelah meeting kemudian dibuat prototype setiap propertinya untuk kembali di bahas pada meeting berikutnya. Setelah dilakukan revisi dari hasil meeting terakhir, tim art membuat dummy dari setiap properti untuk kebutuhan workshop. Kemudian setelah tim art siap, semua kru produksi melakukan workshop untuk mencoba setiap properti yang akan digunakan. Menjalankan mekanisme pop up dan materi lainnya, menyesuaikan skala, angle kamera, dan pencahayaan. Workhsop ini dilakukan untuk meminimalisir kesalahan dan mempermudah sehingga kerja shooting bisa efektif.

Layout pop up set 2 - Rumah dan Toko Dunlop

lay out awal
layout kedua dengan mekanisme pop up
dummy untuk kebutuhan workshop
layout set pop up final shooting

Lay out pop set 1 - Toko Dunlop

dummy dengan mekanisme pop up
dummy yang digunakan untuk workshop
layout final
shooting stop motion pop up

Workshop Stopmotion untuk mobil dan jalanan

Workshop adegan mobil dan jalanan dilakukan untuk melihat apakah skala dan efektifitas memindahkan tiap properti yang bergerak  sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu juga untuk untuk mengontrol jarak dan percepatan animasinya, untuk melakukan ini dibantu dengan aplikasi stopmotion, untuk workshop ini menggunakan aplikasi Snapdragon.


Properti ban dunlop

eksperimen ban kertas skala kecil
Ban kertas sekala kecil final
Ban lapis kertas sekala 1:1
Ban lapis kertas skala 1:1 shooting

Grafis didalam ban yang terbuka


 TVC dunlop yang telah tayang


Iklan CDR karya JWT Advertising
Selera adalah hal yang sangat mendasar dalam hidup manusia. Sangatlah jelas bahwa tindakan kita sehari-hari sangat disetir oleh selera kita. Mulai dari hal sederhana seperti pemilihan baju, menu makan siang, isi MP3, Games dan aplikasi pada gadget kita, memilih mentor bisnis, sampai pada hal yang menentukan jalan hidup seperti kepada siapa kita jatuh cinta. Semuanya berkaitan erat dengan selera kita. Bicara tentang selera pada seseorang berarti bicara tentang apa yang dinilainya bagus, cantik, indah, enak, nyaman. Ini jelas tentang pertimbangan estetis.

Menurut filsuf Immanuel Kant (1724-1804) pertimbangan estetika didasarkan pada perasaan subyektif yang terpulang pada masing-masing orang. Kant juga berpendapat bahwa apa yang dinamakan good taste (selera bagus) sebenarnya tidak ada, yang eksis adalah konsensus publik mengenai apa itu keindahan. Kalau dihubungkan dengan selera dan keinginan mengonsumsi bisa jadi  konsensus publik ini = selera pasar atau selera kebanyakan.

Suatu produk budaya, entah itu music, masakan, pakaian ataupun desain, bila berhasil memanfaatkan selera pasar, akan memiliki peluang yang baik untuk sukses di pasaran. Publik kemudian akan dengan rela hati dan antusias membeli (bahkan kalau perlu dengan cara berutang/kredit) produk tersebut. Implikasi di belakangnya, seperti terjerat utang bukan urusan pemasar. Contoh gampangnya adalah seperti pola pengeluaran handphone dan pulsa oleh para “blue-collar worker”, yang memakan persentase yang signifikan dari gaji mereka.

Pemahaman akan budaya adalah kunci kemenangan di medan peperangan = kemenangan pasar. Tanpa penelitian yang mempelajari Islam dan kultur setempat oleh Dr. Snouck Hurgronje (1857-1936), mustahil Belanda mampu meningkatkan control atas Aceh. Sejarah mencatat, kultur adalah benteng pertahanan terhadap dominasi asing. Dan cara mendobrak benteng itu adalah dengan mempelajari kultur tersebut, memperoleh pengertian yang mendalam, dan mencari celahnya. Sampai saat ini cara itu tetap valid.

Langkah pertama dalam mengembangkan atau memenangkan selera pasar adalah mengenali khalayak sasaran, yaitu meneliti kelompok calon pembeli (produk yang ditawarkan).
Strategi berikutnya adalah Indentifikasi Audiens Sasaran yaitu mengidentifikasi pasar yang ingin dibidik, atau dengan kata lain melakukan segmentasi pasar dan pembidikan pasar. Para penjual dapat mengambil tiga strategi pendekatan kepada pasar.

Pertama, pemasaran massal dengan memproduksi dan mendistribusikan secara massal satu produk dan berusaha memikat segala jenis pembeli.

Kedua, pemasaran beragam produk, yaitu keputusan untuk memproduksi dua atau lebih penawaran pasar (produk) yang berbeda dalam model fitur, mutu, ukuran, dan sebagainya yang dirancang untuk menyediakan keragaman bagi selera pasar serta membedakan produk penjual dengan pesaingnya.

Ketiga, pemasaran target yaitu dengan membedakan berbagai kelompok pembeli yang membentuk pasar dan mengembangkan bauran produk dan pemasaran yang sesuai untuk masing-masing pasar sasaran.
Saat ini, para penjual masa kini sedang beralih dari pemasaran massal dan diferensiasi produk kearah pemasaran target karena jenis pemasaran ini lebih membantu dalam mengenali peluang-peluang pasar dan pemasaran yang efektif.  Langkah-langkah pokok pokok dalam pemasaran target terdiri dari Segmentasi Geografis, Segmentasi Demografis, Segmentasi Psikografis, Segmentasi Perilaku, Segmentasi Manfaat, Segmentasi Pasar Industri.

Sudah siap memenangkan pasar dengan memanfaatkan selera pasar untuk produk yang Anda jual?

Tentang penulis bisa di kunjungi rumahnya disini => didisupardi.com
Iklan Wonderbra
Banyak iklan yang tampil, tak semua menarik minat khalayak, merancang iklan, terutama yang kreatif, perlu disiplin tersendiri. Iklan yang menjual harus dirancang dengan “SERIOUS”.

Ada banyak pakem dalam membuat iklan. Sejumlah legenda iklan terkemuka telah memberikan sejumlah kaidah untuk membuat iklan. Ada konsep klasik dari St. Elmo Lewis (1898) tentang kaidah AIDCA (Attention, Interest, Desire, Conviction, Action). Lee Clow, salah seorang anggota Clio Hall Of Fame, menegaskan pentingnya keberanian menolak karya iklan yang dirancang dengan mental “good enough”. Sebab, kita perlu menyadari, good adalah enemy of the great.

Fadjar Rusli, insan periklanan nasional yang  pernah menjadi juri di sejumlah festival kreatif  internasional dan memperoleh sejumlah penghargaan di dunia periklanan mencoba merumuskan konsep kreatifnya. Sebuah teori yang cukup menarik telah diciptakannya yaitu teori yang menjabarkan tentang cara pembuatan iklan yang baik melalui kata SERIOUS. SERIOUS sendiri merupakan akronim dalam upaya pembuatan iklan yang baik dan menjual melalui Single message (pesan tunggal), Entertaining (menghibur), Relevant (relevan), Idea (ide), Original (orisinal), Unexpected (tak terduga), dan Sells (menjual).

Yuk, kita bahas satu persatu pesan yang ingin disampaikan dari kata SERIOUS.

SINGLE MESSAGE
Sebuah bola yang dilempar ke arah Kamu dapat dengan mudah Kamu tangkap. Namun dua buah bola yang meluncur ke arah Kamu akan membuat Kamu kerepotan menangkapnya. Apalagi jika ada tiga, empat atau lima bola datang bersamaan, Kamu bisa jadi tak dapat menangkap satu pun dari bola itu. Karena itu menjadi sangat penting untuk memilih pesan yang ingin disampaikan, sesuai dengan harapan terbesar dari khalayak sasaran yang ingin dicapai. Disini menjadi sangat penting memahami Consumer Insight sehingga khalayak sasaran akan tergugah mengikuti persuasi pesan.

ENTERTAINING
Konsumen tak akan memperhatikan iklan yang garing dan boring, mereka punya banyak pilihan entertainment yang menghibur dalam mengisi hari-hari mereka. Apa yang dikatakan oleh David Ogilvy bahwa konsumen tak akan membeli dari badut mungkin ada benarnya. Namun lelucon yang kreatif dan menghibur akan membuat orang tersenyum dan menciptakan empati. Karena itu iklan harus melakukan engagement dan menghibur khalayak sasarannya. Dengan senyum, simpati dapat dibangun dan relasi alias bonding antara merek dan khalayak dapat diciptakan.

RELEVANCE
Dorongan untuk tampil baru dan unik seringkali membuat perancang iklan menggapai kemungkinan kreatif yang tak terduga bahkan gila-gilaan. Namun harus di ingat batas antara kreatif dan gila setipis daun bawang. Kamu bisa berjalan dengan tangan sebagai pengganti kaki sehingga menarik perhatian banyak orang. Namun apakah hal itu relevan dengan pesan yang ingin disampaikan mungkin adalah hal yang lain. Kita bisa bertindak gila-gilaan, namun hal itu bukanlah suatu kerja kreatif, namun bisa jadi malah destruktif. Relevansi menggambarkan ide kreatif tidak berdiri sendiri  atau terjun bebas dari langit. Ia merupakan suatu proses pemikiran yang melibatkan harapan dari khalayak sasaran. Itu sebabnya untuk menjadi relevan proses kreatif iklan melibatkan strategic planner yang memungkinkan pekerja kreatif menambang ide dalam ranah yang relevan.

IDEA
“Damn, it is really great!” “Anjeeer!” Hanya ide besar yang bisa menarik perhatian konsumen dan menghipnotis mereka lebih dalam daripada hipnotis ala Rommy Rafael. Dari 1000 ide yang lalu-lalang di kepala, mungkin hanya ada satu ide yang stands out dan cemerlang, yang mampu menciptakan suatu konsep atau tema iklan yang bisa membuat khalayak berdecak kagum. Jacques Seguela dari Euro RSCG bahkan mengibaratkan ide besar bagaikan sperma, jutaan yang tersembur namun hanya satu yang membuat kehamilan.

ORIGINAL
Kreativitas memerlukan kesegaran dan keunikan, dan karena itu menuntut orisinalitas. Iklan yang telah “terlihat” sebelumnya tak lagi memiliki greget dalam upaya persuasi, karena konsumen akan membandingkan dengan pendahulunya. Disinilah pentingnya untuk terus menarik ide ke titik frontier terdepan.

UNEXPECTED
Mungkin inilah faktor penting untuk membangkitkan daya tarik yang membuat khalayak sasaran memerhatikan pesan iklan. Cara penyampaian pesan yang tak terduga akan membuat konsumen menunda memencet remote control karena melihat sesuatu yang tak terbayangkan olehnya. Suatu hal yang membuatnya terpaku di layar TV, memerhatikan iklan yang sedang ditayangkan.

SELLS
Iklan yang menjual dan memperoleh penghargaan bukanlah suatu dikotomi. Iklan mampu menjual karena berhasil tampil kreatif, dan sebaliknya. Sejumlah pemimpin pasar semacam Axe, Nike dan Apple tampil begitu kreatif dalam iklan-iklannya. Iklan yang berhasil tampil kreatif akan sukses menciptakan awareness, yang akan membangkitkan ketertarikan gairah, dan akhirnya mendorong konsumen untuk membeli produk tersebut. Tak peduli betapa pun indah dan hebatnya craftsmanship dan eksekusi dari paparan sebelumnya, tanpa iklan tersebut bisa menjual  maka akan sia-sia, karena inti dari iklan adalah harus bisa menjual.

Bagaimana apakah sudah kepikiran mau buat iklan dengan SERIOUS??

(Tulisan ini di kutip dari majalah Concept  Vol05Edisi03’2009)

KitKat + Android = Brand Kuadrat

at 9/04/2013 • , • View Comments



Android adalah OS yang dikeluarkan oleh google untuk smartphone, dari awal mengeluarkan os ini, google menamai setiap versi dengan nama-nama makanan, dan sampai terakhir adalah Jelly bean untuk android seri 4.1 dan sekarang untuk android seri 4.4 akan diberi nama android kitkat, yah kitkat masih ga percaya coba kesini deh, sebuah merek coklat yang brandnya sudah tertanam cukup kuat.


Bayangkan sekarang kitkat akan bersanding dengan android. Iklan-iklan vendor yang jualan smartphone berbasis android akan dengan sangat terpaksa menyebut brand coklat ternama itu alias KitKat, dikarenakan versi android terbaru selalu menjadi bahan jualan yang menarik untuk pasar. Ato kalo di Indonesia, mungkin para tukang dagang di mal-mal elektronik dan sekitaran akan memajang kitkat androidnya di toko-toko mereka. Sungguh akan menghemat biaya promo, itu yang saya bayangkan pertama kali membaca berita android kitkat ini.
Apakah kombinasi brand ini akan menciptakan brand baru? selama android belum meluncurkan seri terbaru dengan nama baru, maka selama itu lah kitkat terdongkrak, nah apakah android seri berikutnya akan di endorse oleh brand lainnya? ato mungkinkah akan ada smarthphone berbasis android terbuat dari coklat?  mungkinkah jika seri android berikutnya jadi Android Lemper?



 
Para pemilik produk yang ingin memasarkan produknya, akan berusaha sekuat mungkin untuk menyebarkan informasi tentang produk yang mereka miliki kepada khalayak luas, agar produk tersebut memiliki kesempatan yang potensial untuk terjual, sampai menghasilkan keuntungan berkali-kalilipat.

Begitulah awalnya sebuah iklan, dimulai dari sebuah cerita yang disebarkan dari mulut ke mulut, dengan cara bercerita bak seorang pendongeng keliling.  Sampai detik ini pendongeng keliling ini telah bertransformasi menjadi berbagai macam bentuk. Dari hanya sekedar teks kecil di area iklan baris sebuah koran, sampai teks, gambar, animasi dan musik yang terangkai  dan terintegrasi serta interaktif dalam sebuah layar kecil pada smartphone Anda.

Setiap muncul sebuah media komunikasi baru, maka akan lahir pula iklan untuk media tersebut. Media cetak, maka ada juga iklan cetak, media radio, maka ada iklan radio, media televisi, maka ada iklan televisi, media internet, maka??? iklan internetkah?? atau media digital?

Media digital yang terkoneksilah yang bisa merangkum semua media sebelumnya, maka akan ada satu paket iklan dalam berbagai bentuk dan varian dalam satu media.

Perkembangan dunia digital yang semakin merangsek masuk kedalam area privasi individu, terutama pada Handphone atau Smartphone, membuat jangkauan iklan menjadi begitu luas, sehingga target audien iklan (termasuk kita) akan hampir dipastikan melihat iklan dalam kehidupan kesehariannya.

Keinginan yang besar dari para pemilik produk untuk mendapakan keuntungan dari penjualan produknya telah melahirkan kombinasi komunikasi yang super kompleks dan canggih.

Sebuah iklan yang berhasil bahkan bisa melahirkan sebuah kebudayaan yang baru.
Sebuah Iklan menjadi realitas, dan realitas tinggal cerita.


Inspiration: Be brave, be safe

at 1/23/2013 • • View Comments



Advertising Agency: The Oddshop, Amsterdam, The Netherlands
Creative Directors: Niels de Wit, Robert van der Lans
Art Director: Niels de Wit
Copywriter: Robert van der Lans
Production company: Eyeforce
Music: Jorrit Kleijnen, Alexander Reumers, Marijn van der Meer
Published: December 2012
Sepatu Dr Martens adalah sepatu yang tadinya diperuntukan untuk para pekerja lapangan, yang kemudian berubah menjadi salah satu simbol perubahan budaya anak muda, karena sepatu ini banyak dipakai oleh grup band ternama yang beraliran punk, skinhead, ska dan grunge serta aliran musik yang lainnya. Desain yang tidak berubah dari tahun 50 ini sampai sekarang masih bertahan dan tetap disukai. Ciri khasnya adalah sol yang berwarna kuning karet serta benang sol yang berwarna oranye, tidak lupa tulisan "Air wair" berwarna kuning dengan warna latar hitam yang menjuntai keluar di bagian belakang sepatunya. Bagi saya sepatu ini adalah sepatu Impian :D



Coklat Toblerone, Ga akan ditolak kalo ada yang ngasih. Coklat ini sangat khas sekali dengan desainnya yang berbentuk segitiga. Tidak ada coklat lain yang berbentuk seperti ini (ya setau saya tidak ada, belum nemu kali yak..) dan ketika coklat ini berada di jajaran rak toko serba ada, akan terlihat mencolok dibandingkan dengan produk coklat lainnya. Bentuk segitiga ini seolah-olah menggambarkan pegunungan Alpen, Swiss, dimana saat mendengar tempat tersebut maka terlintaslah coklat (ato gak jam tangan hihi). Saya suka coklat toblerone yang berwarna putih, desainnya dan rasanya hehe...


Mau tau para juara yang lainnya? baca aja disini oks kamak-kamak! oya ini yg bagian ke 1 nya.

Super Power Idea

at 1/07/2013 • • View Comments

Iklan Televisi dari Virgin Atlanltic ini kami persembahkan untuk menyambut tahun 2013 yang Supercalifragilisticexpialidocious semoga mengispirasi kamak-kamak sekalian hohohoho...

[infografis] Psikologi Warna

at 5/23/2012 • , , • View Comments

Warna punya pengaruh besar, karena memberi nuansa secara keseluruhan terhadap pesan dalam bentuk visual. Huruf saja, ilustrasi saja, tak lengkap dengan warnanya. Dengan penggunaan warna yang berbeda, sebuah visual bisa berubah makna.

Daripada ribet membuka kamus warna dan apa maknanya, ini ada infografik tentang Psikologi Warna buatan nowsourcing.com. Silakan dipelajari ya!


Psychology of Color [Infographic]
Courtesy of NowSourcing, Inc



Inspirasi: Menonton yang Menonton

at 1/07/2012 • • View Comments


Lucu, pada saat kita membayangkan ada yang menonton kita di dalam televisi kita, sebuah televisi yang visioner :D Ini adalah salah satu iklan Samsung untuk sebuah acara pameran elektronik. Sederhana bagaimana samsung memvisualisasikan perkembangan televisi dari masa ke masa, dan mengajak kita untuk ikut membayangkan televisi masa depan, penasaran? cekidot deh...
 

Iklan dan "Games"

at 1/03/2012 • • View Comments

Menarik melihat perkembangan iklan dan persaingannya di dunia internet, dimana iklan konvensional yang disiarkan di media seperti radio, televisi dan surat kabar bersaing dengan jejaring sosial yang bertebaran di internet dengan iklan yang dikeluarkan, baik oleh perusahaan atau perorangan. Bahkan menurut info dari kawan-kawan praktisi periklanan di Jakarta, sekarang di perusahaan Biro Iklan telah muncul divisi baru, yaitu divisi sosial media atau jejaring sosial, dimana mereka berperan dalam membangun kampanye sebuah produk atau jasa melalui internet, setiap pekerjanya menjadi agen yang harus terhubung 24jam dengan internet.

Internet menjadi pilihan beriklan yang lebih murah, dengan jangkauan yang mendunia (walaupun faktanya pengguna internet di dunia belum sebanyak penduduk dunia, silahkan cek disini). Berbagai usaha dilakukan oleh perusahaan untuk membuat iklannya terintegrasi antara dunia nyata dengan internet, atau bahkan memulai kampanyenya semenjak dari internet sebagai virus atau sering dikenal dengan viral marketing. Atau juga mencoba untuk membuat kampanye iklannya se-interaktif mungkin, agar iklannya mengena pada sasaran, seperti terlihat pada jenis iklan ambience, iklan yang dipasang di tempat yang bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari target audien-nya. Atau juga menggunakan teknik Augmented Reality dalam menyampaikan pesan iklannya.

Saya ada beberapa contoh menarik dari hasil eksekusi iklan melalui pendekatan games di internet, mungkin hampir bisa dibilang termasuk ambience ads di internet, iklannya adalah iklan es krim magnum, bisa diakses disini.  Untuk yang satu ini lebih interaktif dan mengajak untuk ikut menyelesakan masalah, iklannya adalah iklan honda civic yang bisa di akses disini atau ada juga yang seperti ini, dan yang ini juga, serta tidak lupa juga salah satu iklan layanan masayarakat yang berikut.

ini adalah 2 contoh rekaman video dari salah satu iklan di atas:





Linimasa Sejarah Periklanan

at 12/28/2011 • , • View Comments

Belakangan ini, muncul tren baru di dunia periklanan. Perkembangan teknologi internet yang demikian pesat, telah mendorong lahirnya era baru periklanan, Online Advertising. Melalui berbagai bentuk interaksi yang memandang konsumen lebih setara daripada pendekatan konvensional yang sangat "mendikte", Online Advertising pelan-pelan menggeser belanja iklan di media tradisional. Bagaimana bisa terjadi? Memahami sejarah periklanan melalui infografis yang dimuat Mashable.com (aslinya buatan infolinks.com) ini mungkin bisa memberi pencerahan bersama. Silakan disimak.



Iklan dengan teknik stop motion ini mendapat pujian dimana-mana. Sebagai produk makanan cepat saji yang biasanya masuk kategori junk food, iklan ini masuk perkecualian. Dalam website-nya, chipotle.com mereka menyatakan sebagai Food With Integrity. Di sana dijelaskan, "It means that we support and sustain family farmers who respect the land and the animals in their care. It means that whenever possible we use meat from animals raised without the use of antibiotics or added hormones." Nah!

Fastcompany.com yang menulis tentang iklan ini, melukiskan misi Chipotle ini sebagai berikut:

It may ring a little false that an enormous fast food chain is trying to end factory farming, but Chipotle often puts its money where its mouth is. It buys more naturally raised meat than any other restaurant company in the country. And this summer, the company committed to using more than 10 million pounds of local produce in its restaurants.

Inilah integritas yang dimaksud Chipotle. Mereka berambisi mengembalikan peternakan untuk bahan makanan cepat saji mereka pada cara-cara yang alami, bukan penuh rekayasa dengan bahan kimia. Binatang ternak tidak lagi dikurung dan dicekoki makanan suplemen seperti pabrik manufaktur. Kepedulian ini kemudian dikemas dalam iklan yang lebih mirip film kartun, dengan teknik stop motion buatan Johnny Kelly.

Ia adalah desainer kelahiran Irlandia, sekolah desain grafis di Dublin Institute of Technology sebelum akhirnya menekuni animasi di The Royal College of Art dan mendapat penghargaan dari Conran Foundation Award by the Provost, Sir Terence Conran. Film animasi untuk tugas akhirnya, Procrastination memenangkan Jerwood Moving Image Prize 08, dan Best Animation, NYC Shorts 08.

Ia pernah menjabat sebagai New Director Showcase di Saatchi & Saatchi, dan sempat mendapat penghargaan Best New Director pada tahun 2007 dari Shark Awards di Kinsale. Ia kini bergabung dengan Nexus Productions sejak tahun 2007, dan telah menyutradarai beberapa iklan termasuk untuk Adobe, UN, BMW, Bacardi dan Google.

Menggunakan slogan dari salah satu bagian syair lagu Coldplay, 'The Scientist', "Back to Start", film kartun pendek Chipotle ini menceritakan bagaimana para peternak kembali mengolah peternakan mereka dengan cara 'lama'. Lagu itu sendiri dinyanyikan oleh Willie Nelson, bukan versi aslinya oleh Coldplay. 

Apa yang dilakukan Chipotle, mengingatkan kita pada isu Do Good Design. Isu keberlanjutan alam yang juga mereka usung, ternyata bisa bersinergi dengan restoran cepat saji, yang biasanya terkenal dengan citra buruknya. Semakin menarik, karena upaya serius ini justru menjadi nilai tambah mereka dibandingkan restoran yang lain. Dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, dan konsumen yang semakin cerdas, nilai tambah positif semacam ini jelas dibutuhkan. Iklan, tidak saja sekedar menawarkan harga murah, tetapi juga membawa misi yang mengetuk hati konsumennya.

Proses pembuatannya kartun animasi ini dimuat di Flickr.com, dalam serial foto yang bisa dilihat di bawah ini:


Created with Admarket's flickrSLiDR.

Obama Advertising Campaign

at 9/01/2011 • , , • View Comments

Obama "Change we can believe in" poster!
Flickr.com
Kampanye calon presiden Barrack Obama (waktu itu masih calon) memang salah satu kampanye politik tersukses. Pemanfaatan teknologi, dan pemilihan strategi yang tepat, telah membawa Barrack Obama -seorang keturunan Afro-Amerika- menjadi orang nomor satu di negara adikuasa itu.

Menurut presentasi di bawah ini, kampanye Obama dibangun berdasarkan model kampanye hirarki efek, yang sudah cukup dikenal luas. Teori dasarnya terdiri dari sekuen atau tahapan pengalaman psikologis yang seharusnya dialami konsumen, ketika menerima informasi melalui sebuah kampanye.

Urutan pengalaman yang dibuat untuk kampanye ini adalah: Awareness, Interest, Preference, Conviction, Action, dan Satisfaction.  Awareness yang ingin dibangun adalah pesan tentang Obama sebagai Hope, harapan baru bangsa Amerika dalam situasi krisis mereka saat itu. Interest dibangun melalui pesan Changed We Need, yang kira-kira menyatakan bahwa Obama akan membawa perubahan yang dibutuhkan Amerika.

Preference dibentuk dengan pesan Stand for Change, yang dibuatkan menjadi lagu kampanyenya. Lagunya masih bisa dilihat di Youtube, We Stand for Change. Tahap selanjutnya, Conviction dibangun   dengan pesan Yes, We Can. Sampai tahap ini, pesan-pesan kampanye seharusnya membuat khalayak lebih yakin bahwa Obama-lah orang yang dapat membawa perubahan bagi Amerika.

Action yang diharapkan kemudian adalah, Change we can believe in. Pada tahap ini, aksi yang dimaksud baru pada tahap mengubah kepercayaan, keyakinan terhadap subyek kampanye, Obama. Karena ini adalah kampanye pemilu presiden, aksi yang diharapkan pada akhirnya adalah masyarakat memilih Barrack Obama sebagai presiden AS berikutnya. Dan akhirnya, memang Obama menang.

Tahap terakhir, adalah Satisfaction. Pesan kepuasan yang ditawarkan dalam kampanye ini adalah Change has come to Amerika.  Dengan memilih Obama, masyarakat digiring pada perasaan seolah-olah perubahan itu sudah datang. Padahal ini baru pada tahap memilih. Tapi, itulah cara kerja 'iklan'. Faktanya, kampanye ini sukses mendudukkan Obama menjadi Presiden AS, periode 2008-2012. Saat ini, ia sudah mulai menjalani kampanyenya untuk naik lagi pada pemilihan tahun 2012.




Ini Iklan Apa Bukan?

at 8/23/2011 • , , , • View Comments

Kampanye anti-merokok, khususnya bagi para remaja memang aktif digalakkan dimana-mana. Saat ini, peraturan yang membatasi perokok semakin meluas di beberapa kota besar. Perokok tidak bisa lagi merokok di sembarang tempat, apalagi di ruang publik. Selain membuat beragam kampanye dengan media tradisional, muncul banyak gagasan dengan media 2.0. 'Iklan' yang kita kenal dulu, mungkin sudah mulai berubah wujud sekarang.

Dari Miami, Amerika Serikat, sebuah perguruan tinggi periklanan, Miami AdSchool, membuat eksperimen dengan media sosial untuk mengkampanyekan aksi berhenti merokok. Pendekatan 'iklan' yang mereka buat mungkin sulit disebut sebagai iklan dalam artian yang konvensional. Tengok saja penjelasannya dalam video berikut:



Gagasan besarnya adalah, membuat seseorang berhenti merokok dengan cara mendorong rekan-rekannya berpartisipasi. Sebuah aplikasi di telepon pintar dibuat untuk memantau proses ini. Seseorang yang akan menjadi target, dipilih dan para pendukung yang ingin ia berubah harus menyimpan 'deposit' sebesar sekian dollar. Para pendukung ini akan memantau si target agar terhindar dari kebiasaan merokoknya.

Deposit tersebut akan dapat diambil kembali jika si target benar-benar berhenti merokok, tetapi jika gagal, maka uang tersebut akan disumbangkan ke sebuah Yayasan Kanker yang bekerja sama dengan pengembang aplikasi ini.

Tekanan dari rekan sebaya, atau teman-teman bermain dan nongkrong dirasa efektif dalam mengubah perilaku. Kebiasaan merokok sendiri, seringkali muncul karena desakan lingkungannya. Karena semua teman merokok, maka tak enak rasanya kalau tidak ikut merokok. Maka kebiasaan itu menular kepada siapa saja dalam lingkaran pertemanan tersebut.

Kampanye ini ingin melakukan yang sebaliknya. Seorang perokok akan dipengaruhi oleh rekan-rekannya yang tidak merokok, sedemikian rupa sehingga tekanan rekan sebaya ini memberinya kekuatan untuk benar-benar menghentikan kebiasaannya. Salah satu kelemahan kampanye ini menurut blog simplyzesty.com adalah data mengenai angka kematian perokok di Amerika. 18% angka kematin per tahun, dirasa terlalu berlebihan.

Apakah kampanye seperti ini bisa disebut iklan? Nah, ini sisi menariknya. Iklan dikenal pada jaman dimana komunikasi massa melalui media berlangsung satu arah. Kini, dengan perubahan besar dalam teknologi media, interaksi menjadi salah satu elemen penting dalam bermedia. Tugas 'iklan' kini pun jadi bergeser, dari penyampai informasi, menjadi pemicu interaksi. Jadi, istilahnya mungkin tetap 'iklan', tapi perkembangan teknologi telah memperkaya pemaknaannya.

Kampanye Puma: Late Night Games Champions

at 7/25/2011 • , • View Comments

“You are the champions of late night games. You revel in ping pong, foosball, darts, bowling, pool and any other sport you can play with a drink in your hand. To you, victory does not always come in the form of a trophy; sometimes it´s a phone number.“

Gambaran generasi muda  dalam paragraf di atas terpampang di halaman depan situs kampanye Puma, puma.com/social. Kesuksesan yang oleh beberapa brand lain diukur dengan pencapaian yang 'luar biasa' (kalau tidak mau dibilang utopis), oleh Puma ditampilkan secara lebih wajar. Late night games champion, para juara tengah malam, adalah mereka yang biasa keluyuran di tempat hiburan malam, sambil melakukan beberapa jenis olahraga untuk bersosialisasi.

Sebagai atlit amatiran, kompetisi bukan tujuan utamanya. Dan seperti juga tujan orang datang ke hiburan malam, bukan tropi yang ingin dibawanya pulang. Mereka cuma ingin senang-senang, melupakan kepenatan, dan siapa tahu pulang dengan teman baru. Ini tentang kehidupan anak muda, karenanya menjadi interpretasi yang jenius untuk Puma Get Social Campaign. Simak saja versi pertama video dari kampanye ini:




Menyimak jalan cerita iklan videonya, bisa dirasakan atmosfir 'sosial' yang kental; orang-orang mentertawakan kegagalan, merayakan keberhasilan, tanpa pretensi ambisius untuk menjadi juara, atau yang nomor satu. Begitu pula tanpa perlu menampilkan siapa yang terbaik, dan yang kalah harus menyingkir. Semua orang bisa 'menang'.

Kampanye dari Puma ini digarap oleh Groga5 New York, berjudul "Puma´s After Hours Athlete". Video kampanye versi pertamanya diganjar penghargaan Film Craft Gold Lion dari festival film Cannes 2011, Perancis. Sementara video keduanya, mendapat kritik cukup pedas.

Berbeda dengan seri pertama, video versi keduanya tidak ada voice over yang membacakan narasi bak pembaca puisi, dan backsound yang dramatis. Isinya hanya anak-anak muda itu menyanyikan lagu "Everywhere We Go". Video kedua ini memang tidak dibuat oleh sutradara yang sama. Adweek yang me-review video ini menyebutnya lebih mirip "Nike doing Puma".


Mungkin Adweek benar, karena Nike dengan slogan Just Do It bisa dengan pas dipasang di akhir video itu. Tapi semangat 'semua orang bisa menang' dalam kampanye Puma, menurut saya tetap lebih menonjol dibanding apa yang selama ini ditampilkan Nike. Ini yang memberi warna yang unik bagi brand Puma.

Ads : KFC dan Nostalgia

at 7/12/2011 • , • View Comments

Restoran yang didirikan oleh Kolonel Sanders sejak tahun 1930 dengan nama "Sanders Court & Cafe", kemudian pada tahun 1952 berubah nama menjadi KFC dan waralaba pertamanya. Dengan sejarah yang panjang tersebut kemudian berasa sekali dalam iklan yang berikut ini, romansa nostalgia yang dieksekusi dengan indah oleh Bapak Erik Van Wyk dkk, penasaran mari kita saksikan tayangan berikut:



Dan juga disini terdapat data kredit yang komplit, lumayan jadi bisa mengetahui sekilas struktur produksi iklan TVC. Ini dia cekidot:

Client: KFC
Spot: "Lifetime"
Agency: Ogilvy, Johannesburg
Executive Creative Director: Fran Luckin
Creative Director: Mike Martin
Agency Producer: Liske Van Tubbergh
Agency Art Director: Alexa Craner
Copywriter: Irene Styger
Production Company: Bouffant
Director: Erik van Wyk
Producer: Shannon Gloyne
Producer: Melina McDonald
Director of Photography: Tim Pike
Production Art Director: Julie Bonnet
Post Production Company: Upstairs Post
Post Production Editor: Kobus Loots
Visual Effects Company: Sinister Post
Music Company: Sony
Post Production Online: Sinister Post
Post Production Online: Pudding/Blade
Post Production Offline: Upstairs 

Liputan selengkapnya bisa dilihat disini.

Memviralkan Iklan, Mengiklankan Viral

at 6/03/2011 • • View Comments

tv.popcrunch.com
Viral, di dunia marketing atau periklanan dikenal sebagai viral marketing. Viral berasal dari kata virus, kata viral sendiri menjadi kata sifat bermakna 'menyebar seperti virus'. Wikipedia menerjemahkannya sebagai Pemasaran Viral; strategi dan proses penyebaran pesan elektronik yang menjadi saluran untuk mengkomunikasikan informasi suatu produk kepada masyarakat secara meluas dan berkembang.

Video Viral? Video viral adalah video yang menyebar dengan cepat dan populer di dunia maya. Penyebarannya bisa lewat email, twitter, atau bahkan lewat broadcast message di Blackberry Messager (BBM). Anda tentu masing ingat tentang video Keong Racun (6,817,865 pengunjung), atau Briptu Norman (2,021,385 pengunjung) yang fenomenal itu. Para tokoh di dalamnya, kini jadi selebriti mendadak gara-gara video yang diunggah ke Youtube, dan mendapat perhatian dari masyarakat luas. Bukan saja di dunia maya, bahkan media massa mainstream pun sibuk membahasnya.

Iklan, sekarang juga memanfaatkan strategi viral ini. Coba ingat-ingat lagi, berapa banyak iklan yang secara sengaja kita kirimkan kepada orang lain, karena iklan itu menurut kita "menarik". Bahkan tulisan ini pun, terinspirasi sebuah iklan yang bertema viral, meski entah apakah iklan itu bisa disebut viral beneran atau justru mengiklankan konsep viral. Iklan itu adalah iklan produk minuman mineral, "Smart Water", yang menggunakan Jennifer Aniston sebagai modelnya. Terasa ada sindiran di dalam iklan itu, misalnya bagaimana membuat sebuah iklan viral, dengan pendekatan perilaku binatang yang lucu, atau bayi, atau bahkan lipsync. Nah, video keong racun yang heboh itu, adalah lipsync yang cukup sukses, meski sebenarnya bukan iklan.

Kualitas si video, tetap menjadi patokan sukses atau tidaknya sebuah iklan viral. Apakah ia lucu, menggemaskan, kontroversial, mencengangkan, seksi, atau apalah. Menurut Jimmy Maymann, "The ideal campaign is edgy, surprising, original, erotic and emotional – and taps into popular culture." Ia adalah pendiri Goviral, salah satu biro iklan online pertama di dunia, yang menggunakan video dalam jaringan sebagai media iklan. Kumpulan tentang iklan viral, bisa dilihat di Viral Friday atau di Top Ten Viral Ad Campaigns.

Di bawah ini, ada salah satu video viral yang katanya paling menarik, setidaknya begitu menurut situs guardian.co.uk, tentang induk kucing yang memeluk bayinya dengan mesra. So sweeet.... :))

Dan Iklan Tradisional-pun Mulai Keok

at 4/15/2011 • • View Comments

http://www.businessinsider.com
Apakah ini berita baik? Atau berita buruk?

Seperti yang sudah beberapa kali ditulis di sini, di sini, dan di sini, masa depan periklanan tradisional, yang menggunakan media-media tradisional, semakin terancam oleh iklan online. Website businessinsider.com melaporkan, pada tahun 2010 yang lalu, pertumbuhan iklan online semakin "menggila", terutama di Amerika Serikat.

Grafik data di atas, adalah salah satu data yang menunjukkan bahwa belanja iklan di koran, radio, atau majalah, sudah terlampaui oleh belanja iklan online. Tinggal televisi yang masih merajai, dengan selisih sekitar $0.26 Milyar.

Kalau kita lihat grafik yang lain, tentang pertumbuhan iklan online dari tahun ke tahun, pertumbuhannya memang cukup signifikan. Sepuluh tahun yang lalu, belanja iklan online hanya mencapai $8.09 Milyar. Sekarang, atau tepatnya pada tahun 2010, belanjanya sudah mencapai $26.06 Milyar! Diprediksi, ke depan iklan online akan terus melaju, dengan menggunakan asumsi pertumbuhannya saat ini.

Situasi Periklanan Indonesia


Di Indonesia sendiri, data pada tahun 2009, menurut detik.com (17/02/2009) mengalami kenaikan total belanja iklan. Pada tahun 2009, belanja iklan diperkirakan naik sebesar Rp 5 triliun, menjadi Rp 52 triliun jika dibanding pada 2008 yang hanya mencapai Rp 47 triliun.

Televisi, sebagai media tradisional yang masih merajai, diperkirakan memang belum akan "keok" dalam waktu dekat. Menurut artikel di Kompas.com (3/6/2010), masa keemasan bisnis media online di Indonesia memang masih butuh waktu. Jika mengacu pengalaman di beberapa kawasan di dunia, sekitar 3-5 tahun waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan signifikan. Pada saat yang bersamaan, bisnis media-media konvensional seperti surat kabar, majalah, dan televisi masih akan bertahan, meski dengan kondisi belanja iklan yang menurun.

"Ini cuma soal waktu saja. Pengalaman di AS dan Jepang, pertumbuhan belanja iklan meningkat dua kali lipat dalam 3-5 tahun terakhir. Ini yang saya kira akan terjadi pula di Indonesia. Semua akan melonjak cepat ketika para industri besar mulai memasang iklannya di media online," kata Charles.

Dalam sebuah diskusi bertajuk “Online Journalism”, seperti yang dilaporkan jakartaupdates.com (3/10/2011), seorang media analis, Hendro D. Laksono menyatakan hal senada. Perkembangan iklan online di Indonesia tumbuh sebesar 400%, atau sekitar 4 persen dari total belanja iklan dari semua jenis media. Televisi, menurut Hendro dalam laporan itu, memang masih mendominasi dengan perolehan 60% belanja iklan, sementara saat ini di Indonesia internet baru menyerap kurang lebih 1,4 persen.

Sebelum internet populer di Indonesia, media periklanan terbatas hanya pada media cetak dan elektronik, seperti radio dan televisi. Tapi kedua jenis media tradisional tersebut memiliki kelemahan dibanding media online. Media online memiliki kelebihan dalam hal kecepatan menyajikan informasi, hal inilah yang menjadi perbedaan signifikan antara media tradisional dengan media online.

Tentang Internet di Indonesia

Pertumbuhan internet di Indonesia memang mengalami peningkatan yang pesat pada lima tahun terakhir. Sebuah berita di tempointeraktif.com (9/12/2010) melaporkan, pada 2005, internet masih berada di urutan ketujuh dari media yang digunakan masyarakat, tetapi pada 2010 internet berada pada urutan ketiga setelah televisi dan koran. 

"Konsumen Indonesia telah bangkit, dan konektivitas menjadi bagian besar dari trend saat ini," ujar Yongky Susilo, Retailer Service Director Nielsen dalam presentasi: Temuan Terakhir dari Survey Nielsen Mengenai Konsumen dan Media, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (9/12).
Dalam laporan itu disebutkan, hasil survei Nielsen menunjukan adanya perubahan kebiasaan dalam mengkonsumsi media. Konsumsi internet meningkat dari 8 persen pada 2005 menjadi 20 persen tahun 2010. Jumlah pembaca koran yang juga mencari informasi dari internet pun tumbuh hampir dua kali lipat dalam lima tahun menjadi 35 persen dari 19 persen pada 2005. Tetapi berbeda dengan data yang disebut Hendro D. Laksono, menurut Yongki  pertumbuhan internet belum berpengaruh terhadap belanja iklan di media online. Dari tahun lalu sampai sekarang media cetak masih yang terbesar mengalahkan TV dan radio untuk beriklan.

Indonesia yang memiliki sekitar 242 juta penduduk menempati urutan kelima terbesar di seluruh Asia, dengan pengguna internet sekitar 30 juta orang. Negara lain seperti Filipina, Malaysia dan Taiwan masing masing memiliki sekitar 29,70 juta, 16,90 juta dan 16,13 juta pengguna internet. Bila melihat dari sisi pertumbuhan, Indonesia masuk dalam kategori lima terbesar dengan membukukan pertumbuhan sekitar 1.400 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Demikian tulis Akhmad Nurcahyadi, analis dari BNI Securities yang ditulis Vivanews.com (9/01/2011)

Menurut penelitian Yahoo, seperti yang ditulis detik.com (5/6/2010), pengguna internet di Asia Tenggara, khususnya Indonesia berhasil mencapai sebanyak 48% pengguna aktif internet pada tahun 2010. Jumlah itu naik 26% dibandingkan pada tahun 2009. Hal itu disebabkan peningkatan pengguna internet melalui ponsel atau internet mobile dan trend untuk mengakses media online.

Penelitian ini  dilakukan Net Index Study yang diselenggarakan oleh Yahoo. Net Index Study ini bertujuan untuk meneliti trend penggunaan internet di Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Filipina di setiap tahunnya. Studi ini merupakan kerjasama antara Yahoo, TNS, Nielsen dan Synovate.

Melihat perkembangan periklanan dan teknologi ICT di atas, menyisakan tantangan besar bagi praktisi komunikasi visual, terutama yang selama ini masih berkutat di ranah desain grafis. Meski saat ini aplikasi di media cetak masih ada, akankah 5-10 tahun ke depan situasinya masih sama? Sudah siapkah Anda sekalian, para grafiskus? 

* Selengkapnya, silakan periksa di web businessinsider.com.

Alur Kerja Periklanan

at 2/25/2011 • , • View Comments

Sebelumnya telah ditulis tentang bagaimana membuat Client Brief, dan kenapa ia begitu penting dalam proses pengerjaan desain dan/atau iklan. Untuk melengkapi tulisan tersebut, ini ada diagram yang menunjukkan bagaimana alur kerja advertising, mulai dari klien hingga kembali ke klien. Secara umum, cara kerja advertising sesuai dengan diagram ini, tetapi tentu saja akan ada perbedaan, tergantung kebijakan masing-masing agency.

Blok berwarna hijau menunjukkan Client Side, artinya pihak klien. Di sana mungkin ada Marketing Director, Marketing Manager, atau Brand Manager. Perusahaan yang memegang lebih dari satu brand, biasanya memiliki lebih dari satu Brand Manager, sehingga dikelola oleh para Marketing Manager, dan/atau langsung ke Marketing Director. Untuk klien dengan isu-isu sosial, seperti dari pihak pemerintah, lembaga-lembaga di bawah UN, atau donor internasional, mereka biasanya akan mengirim Program Manager-nya.

Blok berwarna abu-abu, adalah Agency Side, atau pihak biro iklan. Paling tidak ada Creative Director, Art Director, Copy Writer, dan jika agen besar, bahkan ada yang memiliki Strategic Planner sendiri. Traffic Management, yang akan berurusan dengan tenggat dan penjadwalan pengerjaan/penayangan media, yang biasanya diserahkan pada pihak ketiga.

Meski demikian, banyak juga para Illustrator atau Copy Writer yang bekerja secara freelance. Mereka hanya dikontrak per proyek, bukan staf atau karyawan Biro Iklan tertentu. Bahkan seorang Creative Director atau Art Director, karena gajinya sangat mahal, terkadang juga tidak digaji oleh satu biro tertentu, tetapi dikontrak per proyek. Terkadang juga, ada Storyboard Artist yang bekerja secara freelance, bertugas memvisualkan naskah iklan TV yang sudah disusun secara tertulis. Intinya, tidak ada satu aturan yang kaku, melainkan biro iklan dapat mengatur organisasinya se-efektif dan se-efisien mungkin, sesuai kondisi yang diinginkannya.

Pihak ketiga ditandai dengan blok berwarna biru, bisa berupa Printing House, Production House, Graphic House, bahkan para Illustrator atau Fotografer yang profesional. Tetapi dalam prakteknya (sepengetahuan saya), Illustrator atau Graphic Designer sudah dipekerjakan oleh Biro Iklan, sehingga pengerjaan artwork grafis bisa diselesaikan sendiri oleh pihak Biro Iklan. Pihak yang paling umum berada di luar Biro Iklan adalah Printing House (Percetakan) atau Audio Visual Production House.

Untuk detil alur kerjanya, diagram alur di bawah ini mungkin bisa menjelaskan. Gambar diagram ini bisa Anda download di alamat AdvertisingWorkflow.pdf. Sementara ini, dari sumber lain, The Interactive Advertising Bureau (IAB), ada panduan yang menarik berkaitan dengan alur kerja Interactive Advertising Workflow Best Practice. Dokumennya bisa Anda download di sini:  Workflow_Best_Practices.pdf


Dalam contoh di atas, pertanyaan awal yang digunakan untuk menyapih jenis pekerjaan adalah input yang masuk ke biro iklan, apakah berupa Creative Solution, atau hanya berupa Media Placement. Jika berupa Creative Solution, maka Client Brief akan sangat berperan dalam membangun solusi untuk menjawab permasalahan klien. Jika hanya berupa Media Placement, tugas biro iklan hanya memastikan apakah materi yang akan dipublikasikan sudah benar-benar layak, baik secara materi maupun teknis publikasi.

Pada saat mengerjakan Creative Solution, pelibatan tim Media Planning & Research menjadi pilihan. Jika klien belum memiliki data-data tersebut, maka pekerjaan ini bisa saja diserahkan ke biro iklan, yang akan menyewa tim khusus, atau menggunakan tim yang mereka miliki. Tim ini akan bertanggung jawab melakukan penelitian terhadap khalayak sasaran, dan pemilihan medianya.

Bagian terakhir adalah proses penayangan atau penerbitan iklan, sesuai penjadwalan dan pemilihan medianya. Terkadang, ada pula pihak penerbitan atau media audio visual yang menawarkan langsung produksi materialnya. Klien tanpa melalui biro iklan, mendatangi media (bisa koran, majalah, atau televisi), untuk memasang iklan, sekaligus minta supaya materi iklannya diproduksi oleh yang bersangkutan. Ini memang jarang terjadi, tetapi faktanya masih ada di lapangan.

Nah, Anda punya pengalaman lain? Referensi lain? Silakan tambahkan ya! :D