DKV UNPAS Bandung: logo

Arakanlebah, Komunitas DKV UNPAS Bandung

Tampilkan postingan dengan label logo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label logo. Tampilkan semua postingan

Hokben: Membrandingkan brand

at 6/11/2014 • , • View Comments

Hoka-hoka Bento adalah salah satu restoran cepat saji ala jepang buatan aseli Indonesia, didirikan pada tahun 1985 di Kebon kacang Jakarta oleh PT. Eka Bogainti, tepatnya 18 April 1985. Percaya atau tidak restoran ini memasak masakan jepang tetapi yang membuat masakan jepang tersebut adalah orang Indonesia, sampai saat ini Hoka Hoka Bento berdiri tidak ada keterlibatan orang Jepang.
Saya ingat jaman ABG, ngajakin cewe makan di Hoka-Hoka Bento itu udah keren banget, dan pasti seneng tuh si doi hehehe, dan rasanya waktu itu jepang banget deh, ga nyangka ternyata asli buatan Indonesia. Biasa kalo mw ngajak doi, saya singkat Hoka-hoka Bento menjadi Hokben, ya semua orang sudah tau kalo Hokben adalah singkatan dari Hoka-Hoka Bento.
Brand Hoka Hoka Bento sebagai restoran cepat saji ala jepang adalah tempat makan alternatif yang ramah di lidah untuk makanan jepang, dengan harga yang bersaing. Di setiap restoran Hokben selalu disambut oleh karakter cewe dan cowo yang bisa geleng2 kepala khas karakter gambar kartun jepang dari karakter hoka hoka bento (Taro yang laki-laki dan hanako yang perempuan).
gambar diambil dar anneahira.com

Hoka Hoka Bento artinya dalam bahasa indonesia adalah makanan hangat yang dibekal, nah biasanya bekal ini sering dihias-hias, bahkan sampe jadi karakter tertentu. Kebiasaan menghias makanan bekal ini sudah menjadi umum dilakukan di Jepang. kira-kira contohnya seperti ini.
gambar diambil dari mybentodelicious.com
Kemudian untuk logo lengkapnya hokben adalah tulisan hoka hoka bento dan karakternya tersebut.
gambar diambil dari menugila.com
Dari tahun 1985 sampai tahun 2012 logo Hoka-Hoka Bento tidak berubah, hanya terjadi perubahan layout saja.
restoran hoka hoka bento pertama di kebon kacang Jakarta 1985. gambar diambil dari hokben.co.id
Tak disangka tak dinyana, panggilan Hokben yang kian hari kian dikenal masyarakat luas telah melahirkan sebuah brand pada restoran Hoka Hoka Bento. Sehingga pada akhirnya sejak tahun 2013, restoran Hoka Hoka Bento merubah logonya menjadi Hokben, sesuai citra yang disematkan oleh masyarakat luas.
gambar diambil dari landor.com
Satupersatu restoran dirubah, kemasanpun demikian, dan setelah dicanangkan, menurut landor.com, semua restoran yang sudah diganti logonya mengalami peningkatan penjualan sampai 20%, dan direncanakan pada tahun 2015 semua restoran telah diganti logonya dan dirubah tampilannya sesuai logo yang terbaru.
Memanfaatkan apa yang berkembang, dan terbukti Brand bisa hidup sendiri kemudian dihidupkan, atau memang ada yang sengaja dirancang, tetapi tidak semua produk bisa sampai memiliki sebuah brand, karena brand tergantung perkembangannya dan penerimaanya di masyarakat.

Selain Hokben yang membrandingkan brand, dulu saya ingat Gudang Garam Filter pernah membuat iklan tentang sebutan-sebutan produk mereka di masyarakat, dan yang saya ingat sekali adalah sebutan Gudang Garam Filter di Jawa Barat adalah Garpit, dan ada juga sebutan lainnya didaerah lainnya, sehingga Gudang Garam Filter memiliki brand tersendiri di tiap daerah. lihat deh nih iklannya hehe baru nemu lagi.

Maksud tulisan ini bukan tutorial atau step-by-step membuat logo, karena itu sudah banyak dibahas di buku-buku, situs web dan di kuliah sekolahan desain. Yang dibahas disini adalah yang kadang luput diperbincangkan dalam referensi tersebut. Sesuatu yang ‘sudah pasti’ tapi seringkali diabaikan dalam membuat logo.

LOGO BUKAN HANYA SEKEDAR SIMBOL
Logo adalah simbol yang berfungsi sebagai identitas dari suatu entitas (bentuk entitasnya bisa berupa perorangan, perusahaan atau jasa). Logo bukan hanya simbol, tapi ia harus identik (mirip hingga ke detailnya) dengan entitasnya. Jadi langkah pertama membuat logo bukan dengan cara membuat sketsa bentuk simbol, tetapi harus dimulai dengan mengenali seluk beluk entitasnya.

LOGO HARUS UNIK, TITIK!
Kunci utama agar simbol menjadi ‘logo’ adalah ia harus unik. Kesulitannya, logo yang unik seringkali bentuknya tidak familiar, sehingga banyak menimbulkan penolakan. “Ah, jangan yang ini. Karena nggak seperti logo Bank!” memiliki ke’seperti’an dengan yang lain adalah musuh utama keunikan. Perlu ditekankan bahwa logo tidak harus menggambarkan lingkup usahanya (yang bisa membuatnya sama dengan yang lain), tetapi logo harus dapat menggambarkan karakter entitasnya. Ikuti saja kodrat alamiah entitas, bahwa setiap entitas itu adalah unik dan seharusnya memang tidak sama dengan yang lain.
Sebuah logo Bank yang tidak seperti logo Bank. Desain oleh Saffron (foto: http://saffron-consultants.com)
JANGAN MENDESAIN LOGO DENGAN METODE YANG  SAMA
Metode atau tatacara/prosedur membuat logo pun harus dibuat unik, yaitu disesuaikan dengan masalahnya. Metode membuat desain logo harus terus diperbaharui, kadang logo tidak harus memiliki visibility (keterlihatan) atau readability (keterbacaan) yang tinggi, karena tampilannya harus agak misterius, misalnya.
Logo yang misterius tidak harus memiliki visibility dan readability. (foto: http://www.larryeeles.com)
LOGO TIDAK HARUS KONSISTEN, TAPI HARUS KOHEREN
Koheren adalah konsisten secara logis; artinya, logo tidak harus berupa satu tampilan yang itu-itu saja. Logo bisa muncul dalam variasi konfigurasi tertentu. Jadi ia fleksibel, dinamis dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta kondisi di sekitarnya.
Logo harus fleksibel, dinamis dengan lingkungannya. (foto: http://saffron-consultants.com)
JADI, LUPAKAN LOGO YANG TRENDY
Terakhir, hindari pendekatan wujud logo yang mainstream atau ikut arus trend. Jadilah tidak popular.
Selamat membuat logo!

Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @didiologi
Kunjungi juga rumah Saya disini
ilustrasi gambar dari justcreative.com
Masih ingat bagaimana dulu Corporate Identity (CI) jadi buah bibir di kalangan desainer grafis? Masih ingat bagaimana pelaku CI tidak mau disamakan dengan perancang logo? Masih ingat juga bagaimana kemudian CI ada dimana-mana, menjadi rancu dan banyak terjadi salah kaprah?

Sekarang datang branding. Branding jadi buah bibir di desainer grafis. Bahkan juga di lingkup advertising, marketing, sampai sales. Branding tidak dapat disamakan dengan sekedar logo. Brand dan Branding ada dimana-mana, sekarang mulai jadi rancu dan juga banyak terjadi salah kaprah.

Apakah branding itu CI yang berganti baju? Buktinya Wally Olins dan perusahaan Landor, yang dulunya konsultan CI, sekarang jadi konsultan branding! Bisa jadi begitu. Lalu bagaimana caranya kita mengetahui identitas sebenarnya dari branding? Mari, kita mulai mencari tahu dari yang mengaku branding tapi sebenarnya bukan branding.

BRANDING ADALAH MEMBUAT LOGO
Semua sudah tahu bahwa ini salah kaprah. Tetapi sudah tahu salah, kok masih banyak yang memperlakukan branding sama dengan membuat atau merubah logo? BNI 46 dan Pertamina memproklamirkan diri mereka melakukan re-branding. Padahal yang mereka rubah hanya logonya saja, tidak ada perubahan dalam perusahaan yang setara dengan perubahan logonya. Bahkan BNI nyaris tidak menghasilkan dampak apa-apa.

Pertamina lebih lumayan, tetapi yang diperbaiki hanya membuatnya menjadi perusahaan yang memenuhi standar: pom bensin jadi baru dan bersih, serta pelayanannya jadi lumayan ramah. Dimana-mana perusahaan yang re-branding memang harus begitu. Seharusnya dengan tingkat logo yang berubah jauh itu, internal Pertamina juga berbenah diri, bersih-bersih, makin efisien, makin agresif secara lebih signifikan. Barulah disebut ada branding. Silahkan baca juga disini penjelasan lebih detail tentang Branding, Identity & Logo.

USAHA KECIL MENENGAH  (UKM) TIDAK PERLU BRANDING
Branding adalah program mengendalikan citra brand/perusahaan di benak pemerhatinya. Pemerhati yang utama adalah internal perusahaan tersebut. Jadi, kalau UKM sudah punya pegawai, pemilik UKM harus sudah mulai mem-branding-kan usahanya, agar pegawainya betah dan bangga, misalnya pemilik harus mulai menjelaskan konsep UKM berbisnis, mau dibawa kemana (visi), dan apa keuntungan jadi pegawai. Itu sudah langkah awal branding.

Kalau UKM telah punya rekan bisnis, branding makin diperlukan. Kita perlu membuat rekan jadi tahu perusahaan kita, lingkupnya apa, arahnya ke mana, sehingga akhirnya jadi percaya untuk bekerjasama. Itu juga branding. Apalagi kalau UKM sudah punya konsumen. Produknya harus bagus dan bermanfaat, kemudian dikemas, dipasarkan dan didistribusikan supaya utuh sampai di tangan konsumen. Supaya konsumen ingat dan tertarik, perlu diberi identitas dan daya tarik lainnya. Supaya fokus, efisien, dan efektif, semua proses produk sampai ke konsumen harus berdasarkan satu konsep yang jelas. Itu juga branding. (Sumber: Versus- Issue 01.08)

Nah, dari dua point salah kaprah ini, apa yang bisa kita pahami? Intinya, branding itu bukan pilihan, sengaja atau tidak, kita sudah melakukan branding. Pilihannya adalah mau branding secara baik atau buruk, mau di program atau dibebaskan, mau integral atau acak-acakan.

Nantikan tiga point penting lainnya dalam tulisan Saya berikutnya di hari Senin yang akan dibahas tentang branding itu adalah program efisiensi, keputusan bisnis tanpa prinsip branding, harus siap-siap menanggung resiko.

Buat yang mau belajar tentang Branding, hari Senin (23/9/2013) Creasionbrand.co.id akan mengadakan Bizzdate dengan tema “THE RISE OF TRANSMEDIA ENTERTAINMENT”. GRATIS!! Hanya untuk 15 orang. Silahkan lihat infonya disini.

Berikutnya masih di hari Senin (23/9/2013) dan masih ngebahas tentang Branding, kali ini dari GIMBFOUNDATION.org dengan tema “All about Branding”. GRATIS!! Hanya untuk 50 orang. Silahkan lihat infonya disini.

Tentang penulis klik disini.

Yahoo! : 30 hari mencari logo

at 9/05/2013 • , , , • View Comments


Yahoo! yang sedang berevolusi secara manajerial, membuat sang logo pun ikut bertransformasi. Uniknya ini dilakukan dalam waktu 30 hari dan di perbaharui setiap harinya, sampai menemukan pilihan logo yang paling pas dengan kriteria yahoo! yang sekarang, yaitu fun, vibrant, and welcoming.


 logo hari-hari yang lalu
Selama 30 hari, terdapat 30 varian logo terbaru dari yahoo!,  dan sampai akhirnya yahoo menemukan logo yang terbarunya.

Logo terbaru yahoo! yang di umumkan hari ini 5 September 2013
Apakah hanya begitu saja sebuah logo berubah? Tingkat subjektifitas dalam menemukan logo sangatlah tinggi, karena ketika mengajukan sebuah logo, biasanya langsung presentasi ke pemilik perusahaanya atau pemegang keputusan, dan biasanya yang dipilih adalah yang paling "disukai" si pemilik (pengalaman sih begitu). Walaupun sebetulnya dalam desain, selalu ada peneletian, dan penjelasan yang lebih logis yang mendukung konsep dari Logo yang diajukan.
Berikut adalah contoh penelitian tentang pencarian logo yahoo! ini dari survata.com sebelum logo baru yahoo! diumumkan.


Berikut adalah penelitian berdasarkan atribut dari logo yahoo! yang lama



Ternyata logo yang keluar diambil menjadi logo baru yang paling mendekati adalah perpaduan dari logo hari ke 8 dan ke 10, begitu menurut pengamatan saya, sedangkan menurut survey adalah logo hari ke 11. Jadi kalo mau rubah logo lebih baik melakukan riset, tetapi yang paling penting risetnya adalah riset tentang si pemilik perusahaan, atau si penentu keputusan, karena kadang kejadian di lapangan tidak bisa diduga. well, yang penting usaha yang sungguh2 deh yaa kamak-kamak sekalian hehehe... selamat buat yahoo! dengan logo barunya deh :D