DKV UNPAS Bandung: Sekilas Tentang Piktogram

Arakanlebah, Komunitas DKV UNPAS Bandung

Sekilas Tentang Piktogram

at 1/18/2011 View Comments

Pictogram, atau pictograph, adalah gambar yang mewakili gagasan, dan dan disampaikan melalui perupaan bentuk fisik obyek aslinya. Beberapa rambu-rambu lalu lintas, menggunakan piktogram sebagai 'bahasa'-nya.

Piktogram pertama kali digunakan secara resmi pada Olimpiade di Inggris pada tahun 1948, dan mulai rutin digunakan sejak Olimpiade di Jepang pada tahun 1964. Karena Olimpiade dihadiri oleh berbagai peserta dari berbagai suku bangsa dan bahasa, maka penggunaan piktogram dipandang bisa memudahkan komunikasi.

Piktogram lalu digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi, menggambarkan cabang-cabang olahraga yang dilombakan. Piktogram ini digunakan pada tiket, sign system, dan lainnya, demikian sehingga peserta dengan mudah dapat mencari tempat kegiatan berlangsung.

Sejarah Piktogram sebenarnya diawali oleh lukisan-lukisan pra sejarah. Kebudayaan Mesir, China, dan Sumeria sudah menggunakannya sejak hampir 5000 tahun silam. Tulisan China yang sampai sekarang bertahan, pada dasarnya juga penerapan piktogram.

Piktogram mudah dipahami, karena bentuknya berupaya menyederhanakan, dan tidak sekedar menyimbolkan. Kalau pada rambu lalu lintas, tanda P berarti parkir, ini bukan bahasa visual karena tidak menggambarkan kegiatan yang ingin disampaikan seperti pada piktogram. Bandingkan dengan gambar rambu orang yang sedang membawa sekop, dan di depannya terdapat siluet kumpulan pasir/tanah. Ini baru piktogram.

Gambar di atas, bukan piktogram dari Olimpiade. Saya menemukannya di internet, tapi sayang website nya sudah tidak aktif. Gambar itu menarik, karena bisa bermakna ganda. Pada dasarnya ia adalah huruf A kapital, tetapi dengan tambahan dua bulatan di samping kiri dan kiri atasnya. Ia juga bisa jadi piktogram, tentang suatu adegan (Anda boleh berimajinasi apa saja :D). Gambar itu tentu bukan contoh yang baik sebagai piktogram, karena bisa bermakna ganda. Piktogram yang baik, harus bermakna tunggal.

Ada yang pernah melihat piktogram di samping ini? Piktogram ini sering digunakan di gedung-gedung perkantoran, atau tempat publik lainnya. Piktogram ini resmi menggantikan tulisan "EMERGENCY EXIT", karena dipandang lebih universal.

Piktogram ini diciptakan oleh desainer asal Jepang, Professor Yukio Ota dari Tama Art University. Menurut Professor Ota, bangsa Jepang membuat piktogram berdasarkan budaya mereka yang sejak dulu sudah mengenal Emblem. Keluarga-keluarga di Jepang, di masa jayanya memiliki identitas masing-masing dalam bentuk emblem, yang mirip dengan piktogram.

Piktogram yang lain hampir saja terpilih sebagai piktogram untuk tanda EMERGENCY EXIT ini, karena Prof. Ota terlambat mengirimkan karyanya. Tetapi dewan International Organization of Standardization (ISO)  akhirnya memilih piktogram karya Prof. Ota.


Pembuatan piktogram untuk Olimpiade Jepang 1964, oleh Masasa Katzumie sebagai penata artistik dan Yoshiro Yamashita sebagai desainer grafis-nya. Menurut Prof. Ota, Yamashita maupun dia sendiri, ketika membuat piktogram menggunakan prinsip, "sisakan yang paling esensial". Piktogram harus dirancang sedemikian rupa, sehingga siapapun di muka bumi dapat memahaminya dengan benar. Karena prinsinp ini, Prof. Ota menyatakan bahwa tak mungkin membuat piktogram demi memuaskan obsesi pribadi. Desainer harus menempatkan dirinya benar-benar sebagai orang awam yang sama seperti orang lain di dunia, meski dengan kecakapan berbahasa yang berbeda. Piktogram, diharapkan dapat menjembatani perbedaan bahasa, mengingat kita sekarang hidup di era global.

 
Piktogram Olimpiade 1964 di Jepang


Piktogram Olimpiade 2012 di London

Gambar selengkapnya tentang piktogram olimpiade dari masa ke masa bisa dilihat di blog creativerepository.com atau ke website museum olimpiade. Gambar piktogram Olimpiade 2012 yang berwarna, dapat dilihat di website Komite Olimpiade China. Piktogram Olimpiade 2012 dirancang oleh Someone, dari London.

Saat ini, menurut Prof. Ota, lebih dari 135 desainer dari berbagai negara berkumpul dan bersama-sama mempelajari bagaimana piktogram nantinya dapat menjadi bahasa yang universal di dunia. Kesadaran bahwa kini dunia telah menjadi semakin global, mendorong terciptanya komunikasi antar manusia tanpa terkendala masalah bahasa. Prof Ota berharap Piktogram dapat dipandang sebagai salah satu solusinya.

Dikutip dari berbagai sumber, terutama publikasi dari web Public Relation Office of Japan, Majalah Online "Highlighting Japan" Edisi Maret 2009, berjudul Signs of All Times (.pdf). Gambar Prof. Yukio Ota merupakan screenshot dari publikasi tersebut.
blog comments powered by Disqus
Related Posts with Thumbnails